Gardenia dalam Sunyi

Gardenia dalam Sunyi

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 27, 2026
"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘶... 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨" Kalila, gadis tunawicara yang memiliki paras cantik, lembut, dan tentunya senyuman manis yang selalu ia tampilkan di wajahnya. Gadis rapuh yang mencoba untuk bertahan, disaat keluarganya tidak menerimanya dengan baik. "Berhenti sebelum mendapatkan apa yang saya inginkan? Tidak akan pernah. Saya mencintai kamu, jadilah milik saya." Ucapnya dengan bersungguh-sungguh dengan nada yang lugas di setiap kata. Sungguh Harsa dibuat gila rasanya, tidak pernah merasakan ingin memiliki sebesar ini, ambisinya untuk mendapatkan seorang Kalila gadis tunawicara yang selalu mengisi pikirannya. "Apa kamu berpikir saya sempurna? Kekurangan yang saya miliki banyak, mungkin lebih banyak dari kamu."
All Rights Reserved
#11
gentleman
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines