We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
THE SPACE WHERE WE BLOOM | BLUESY

THE SPACE WHERE WE BLOOM | BLUESY

  • WpView
    Reads 1,397
  • WpVote
    Votes 215
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 19, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Lavina telah menikmati kesendirian selama lima tahun terakhir, mengelola kedai kopi kecil menjadi dunia penuh ketenangannya. Kedatangan Jarvis, pelanggan setia kedai kopinya, lambat laun mengisi kekosongan hidup Lavina yang sunyi. Namun, apakah Lavina siap untuk membuka hati lagi?
All Rights Reserved
#354
romcom
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Beloved CEO : CEO Tercinta
  • A Sign of Affection (Jeno X Karina)
  • When Hearts Collide
  • Cinta atau Obsesi? || Bluesy ^ Revisi
  • Boredom
  • The Love Of My Random Life (JENSOO) [END]
  • Heartbeats of the ER [END]
  • Brightest Star (Bluesy) - END
  • Flowers

Completed ✅ Bagi Stella Francis, bekerja di Peters & Co. adalah tiket satu arah menuju hidup yang lebih layak, walau itu berarti harus mengenakan sepatu murah yang lecetnya tak bisa disembunyikan, menyimpan bekal dalam kotak makan anak-anak, dan tetap tersenyum lebar sambil membawa lima gelas kopi untuk rekan satu tim. Ia tahu dunia kantor tak selalu ramah, apalagi jika atasannya adalah Stefan Peters, seorang CEO yang lebih nyaman berbicara dengan spreadsheet daripada manusia. Namun Stella bukan tipe wanita dua puluh tujuh tahun yang mudah surut. Di balik sikap riangnya, ada keteguhan yang telah ia tempa, bahkan oleh Stefan yang dikenal dingin. Perlahan, celah-celah kecil terbuka. Dalam ruang-ruang diskusi larut malam dan proposal yang disusun berdua, Stefan mulai melihat sisi lain dari Stella, bukan hanya sebagai rekan kerja dan karyawati yang selalu bersinar, tetapi sebagai seorang perempuan yang hidupnya ditambal oleh keterbatasan dan tak pernah kehilangan cahaya. Keduanya berjalan di garis tipis antara profesionalisme dan sesuatu yang jauh lebih personal. Karena ternyata, yang paling sulit bukan menjaga jarak, melainkan pura-pura tak merasa apa-apa. Tapi bagaimana jika yang coba mereka hindari justru satu-satunya hal yang layak diperjuangkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines