Kisah ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama yang dipenuhi pertemuan manis dan skenario sinematik. Ini adalah cerita tentang dua insan satu dengan lensa, satu lagi dengan pena yang dipertemukan lewat pesan singkat, lalu tumbuh bersama lewat obrolan yang sederhana tapi bermakna.
Dia, laki-laki yang kaku namun tulus. Seorang fotografer yang lebih pandai mengekspresikan dunia lewat gambar daripada kata.
Aku, perempuan yang menyimpan rasa dalam diam. Mencintainya sejak jauh sebelum dia sadar aku ada.
Perkenalan kami dimulai dari pesan singkat, berkembang menjadi obrolan ringan, lalu berubah menjadi tempat saling curhat. Dia datang dengan luka, aku hadir dengan sabar. Dia bercerita tentang patah hatinya, aku mendengarkan tanpa menghakimi. Tanpa sadar, kami saling tumbuh, saling mengisi, dan saling belajar mencintai tanpa harus sempurna.
Ini adalah kisah tentang dua hati yang perlahan saling menemukan, bukan karena kebetulan, tapi karena ketulusan. Tentang proses menerima satu sama lain bukan saat sedang utuh, tapi justru saat sedang belajar menyembuhkan.
Klara berpura-pura menjadi Klera kembarannya agar bisa bertemu dan hidup bersama sang ibu. Klera meminta Klara menggantikan posisinya agar dirinya bisa berlibur bersama sang selingkuhan.
Selama 100 hari, Klara harus menjalani hidup yang dimiliki Klera, termasuk melayani Daniel, suami Klera. Kepura-puraan itu rupanya menjadi petaka baru di kehidupan Klara. Semua penyamaran itu pun terungkap. Daniel tentu tak tinggal diam. Hal yang tak pernah Klara sangka pun terjadi.