Delicate | Hwang Hyunjin

Delicate | Hwang Hyunjin

  • WpView
    Reads 2,369
  • WpVote
    Votes 403
  • WpPart
    Parts 54
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2026
"Biasanya, cewek yang duduk bareng gue bakal sok jaim atau malah nyari perhatian. Lo?" Sam menyeringai. "Lo bahkan nggak peduli sama keberadaan gue." Vallerie mendengus. "Karena lo bukan pusat dunia gue, Hwang." Di antara tatapan penuh penilaian, bisikan di lorong sekolah, dan ketegangan yang menggantung di udara, Vallerie harus menghadapi pertanyaan yang tak bisa ia hindari, seberapa jauh ia rela mempertahankan keyakinannya? apakah hatinya benar-benar kebal terhadap pesona seorang Sam Hwang? "Isn't it, isn't it, isn't it delicate?"
All Rights Reserved
#2
hwanghyunjin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I Love You, But ... ✓
  • My CEO • Kang Taehyun
  • Run To You | June iKON
  • FRIEND WITH BENEFIT || hyunsung (coмpleтe ✓)
  • study group x male readers
  • From You to Me {Hwang Hyunjin} ✓
  • SOLD || Minsung
  • FAN-SIGN | Hwanshi ✔

Orang-orang berpikir Lee Seokmin adalah cowok yang Yuna suka dan Kwon Soonyoung adalah kebalikannya. Karena Yuna selalu tersenyum dan akrab dengan Seokmin, sedangkan pada Soonyoung seperti musuh. Namun, Soonyoung tak pernah menyerah dengan perasaannya. Hingga akhirnya dia mendapatkan hadiah besar setelah malam itu terjadi. Dia tidak sabar mendengar Yuna menerima perasaannya kemudian berpacaran dengannya. Seharusnya itu terjadi. Seharusnya. **** "Kau mau pergi? Kenapa?" Kebisuannya bisa membunuhku. "Yuna, kau bahkan tidak memberiku kesempatan pacaran denganmu! Kau bilang jawabannya hari ini." Dia sepertinya tidak peduli seberapa dalam kehancuran yang akan kuterima akibat putus asa mengejarnya. "Kenapa kau tega sekali padaku? Jawab aku!" Dinding batu yang mengungkung tubuh Yuna akhirnya binasa. Dia menjatuhkan tasnya dan melangkah ke arahku. Matanya tiba-tiba memerah. Aku bertanya-tanya apakah dia hendak menangis atau itu memerah karena hal lain seperti kelilipan atau apa. Tiba-tiba kedua tangannya mendorong dadaku. Kencang sekali. "Kau mau pacaran denganku? Baiklah," ujarnya, suaranya gemetar. Dia mendorongku lagi, lebih kencang hingga tubuhku keluar dari bawah atap halte ke bawah guyuran hujan. "Ayo pacaran." Yuna mengeluarkan ponsel. Sementara jemarinya menari di atas layar, aku mengawasi dengan gigi bergemeletukan, tubuhku menggigil kedinginan, tanganku terkepal kencang. Kemudian gadis itu memamerkan layar ponsel padaku yang menampilkan penghitung mundur. "Tiga menit dari sekarang."

More details
WpActionLinkContent Guidelines