Catatan Kematian Saera (END)

Catatan Kematian Saera (END)

  • WpView
    Reads 16,306
  • WpVote
    Votes 3,479
  • WpPart
    Parts 150
WpMetadataReadMatureComplete Wed, Sep 3, 2025
Katanya kebanyakan kematian sudah terjadi diusia 20 tahun, tapi tubuhnya bisa berjalan mengikuti alur kehidupan dengan baik. Bibirnya bisa tersenyum dan tertawa lebar, tapi matanya tanpa permisi menghujani wajahnya dengan butiran-butiran bening yang berkilau. Saera tidak tau kapan tubuhnya mati dan kapan hatinya hidup. Gadis itu hanya bisa menggerakan kakinya untuk berjalan karena kalau tidak dia akan tertinggal, otaknya dipaksa berfikir untuk menjalani kehidupan yang sepi. Bibirnya dipaksa tersenyum untuk mendapatkan orang-orang asing dalam hidupnya, dan air matanya dia gunakan untuk membuang gumpalan kekosongan yang menyesakkan dadanya. Start : januari 2025 Finish :september 2025
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Seperti Tulang [SUDAH TERBIT]
  • Before 180 Days ✓
  • Pulang Tanpa Arah
  • MEMELUK LUKA [END]
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • Sudut Luka Nazea
  • Paradise
  • LAVANYA
  • Rumah Orang Mati

⚠️ Ditulis oleh: Aksaradin & NS. Sea ⚠️ Tersedia di shopee @ranisalenovel *** Haura Putri Maheswari, perempuan yang dikenal cantik, entah parasnya, maupun bentuk lukanya. Haura tumbuh pada atap sempurna, tapi cacat. Ia diperbolehkan untuk tinggal, meski suasana tampak berbeda dalam sana. Sebab, beberapa orang mungkin tidak akan pernah menganggapnya terlihat. Meskipun begitu, Haura tetap ingin bersama keluarganya. Tidak ada yang baik-baik saja, hari-hari terasa seperti berjalan pada kegelapan. Memasuki dunia yang di mana hanya ada luka dan air mata. Hidup tidak selamanya berisi kebahagiaan, memang. Luka, duka, pilu, dan rasa sedih akan selalu bertandang tanpa henti. Bahkan, tidak semua orang mampu bertahan hingga akhir. Ada yang memilih memutuskan jalannya sendiri, memilih mengutuk diri atas kelahiran, dan ada yang pulang sebelum waktunya. Namun kali ini, Haura berharap ia mampu bertahan di tengah gempuran pembenci. Tak ada yang dapat disalahkan, termasuk takdir. Semua yang terjadi sudah memiliki garisnya sendiri. Haura percaya, pada awalnya, bahwa hal-hal yang rusak pasti akan menemukan utuhnya suatu saat nanti. Hingga di mana kepercayaannya mulai pudar, seseorang datang, menuntunnya kembali pada jalan berbatu yang ia lalui sebelumnya. Ia jelas menolak, untuk apa kembali pada tempat yang sama jika harus mengulang patah yang serupa untuk kesekian kali? "Untuk membuat usaha lo menanam benih bunga di tahun-tahun sebelumnya nggak sia-sia. Gak mungkin 'kan kalau lo gak mau ngelihat hal indah yang selau lo nanti kedatangannya." - Samudra Sean Albiru **** "Ketika hidup dianugerahi patah berkali-kali, kau akan memilih mati, atau kembali sembuh dalam keadaan tak utuh?" - Seperti Tulang

More details
WpActionLinkContent Guidelines