Dear Arsen,
Jika surat ini sampai ke tanganmu, maka aku sudah tiada. Aku ingin kamu tahu, meskipun aku tidak lagi bisa bersamamu di dunia ini, cintaku untukmu tidak akan pernah hilang. Aku tahu, selama ini kita berdua terperangkap dalam cinta yang tak bisa kita ungkapkan dengan sempurna. Aku tahu kamu mencintaiku, begitu pula aku. Tapi hidup tidak selalu seperti yang kita harapkan, kan?
Aku ingin kamu mengingat satu hal, Arsen. Kamu adalah bagian terbaik dalam hidupku. Aku mungkin tidak bisa berbagi masa depan bersamamu, namun aku ingin kamu tahu bahwa setiap kenangan kita bersama akan selalu terukir indah dalam hatiku.
Aku tidak pernah merasa sesempurna itu, hingga kamu datang dalam hidupku. Kamu mengajariku banyak hal, memberikan kebahagiaan yang aku tak pernah bayangkan sebelumnya. Aku berharap, meski kita tidak bisa bersama, kamu akan selalu ingat bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun. Jangan biarkan kesedihanmu menghentikan langkahmu. Teruslah maju, Arsen. Lanjutkan hidupmu dan temukan kebahagiaan yang kamu pantas dapatkan. Aku akan selalu mendukungmu, meskipun aku sudah tiada.
Selamat tinggal, Arsen. Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya.
Dengan cinta,
Alina
Denting luka dan riuh kehilangan berbaur jadi satu.
Pecahan-pecahan perasaan berserakan di lantai jiwa kita.
Rahasia yang terlalu lama disembunyikan kini berubah menjadi beban yang tak tertanggungkan.
Kita mulai kehilangan-satu per satu.
Kejujuran ternyata bukan hanya soal berkata benar, tapi soal keberanian untuk menanggung luka setelahnya.
Kita takut berbagi sakit, takut menumpahkan amarah, takut mengakui betapa bersalahnya kita.
Dan ketika semuanya pecah, hanya diam yang tersisa.
---
"Dirta, jaga mereka baik-baik, ya? Aku pergi duluan. Aku sayang kamu..."
- Aletha