Ayana
  • WpView
    Reads 100
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 19, 2025
Ayana Allevia, gadis 17 tahun yg sekolah di SMA yang maju dan terkenal , insecure dan tidak percaya diri. memliki orang tua hebat, dan sahabat yang baik "𝗮𝗸𝘂 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗸𝗲 𝗮𝗸𝘂, 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗮𝘀𝗮𝗹 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘁𝗮𝘂 𝗯𝗲𝗿𝘀𝘆𝘂𝗸𝘂𝗿 𝗴𝗮 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗸𝗶𝗿𝗮" -𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙚𝙫𝙞𝙖 _ "𝘁𝗲𝗺𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗻𝘆𝗮" -𝙑𝙚𝙖 𝘿𝙞𝙣𝙖𝙩𝙖𝙨𝙮𝙖 "𝗶𝗻𝘀𝗲𝗰𝘂𝗿𝗲? 𝗴𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗶𝗻𝘀𝗲𝗰𝘂𝗿𝗲 𝘆𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝘀𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗻𝗮 𝗸𝗹𝗼 𝗺𝗮𝘂 𝗯𝗲𝗿𝘀𝘆𝘂𝗸𝘂𝗿" -𝗡𝗶𝗻𝗱𝘆 𝗝𝘂𝗹𝗶𝗮𝗻𝗮 haloo baru belajar buat cerita nih ramein yaa 🤍 sebagian cerita ada yang diambil dari kisah aku tauuu🙂🙂😄 kmu bisa manggil aku araa atau Aya oke itu nama aku 🐱✌🏻 𝐃𝐢𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐫𝐚𝐬 𝐩𝐥𝐚𝐠𝐢𝐚𝐭!!! 𝐠𝐚𝐤 𝐤𝐚𝐬𝐢𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐝𝐢 𝐩𝐥𝐚𝐠𝐢𝐚𝐭 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 🥲? 𝐧𝐚𝐡𝐡 𝐦𝐚𝐤𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐭𝐮 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐥𝐚𝐠𝐢𝐚𝐭 𝐨𝐤𝐞𝐞
All Rights Reserved
#8
keluargasederhana
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALYA
  • 𝐏𝐋𝐀𝐘 𝐆𝐈𝐑𝐋 𝐊𝐀𝐋𝐄𝐀
  • 𝐓𝐫𝐮𝐬𝐭𝐰𝐨𝐫𝐭𝐡𝐲 𝐖𝐢𝐭𝐡 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐚 [END✔️]
  • GRIZLEN {On Going}
  • Because I'm Stupid (End)
  • ALEYA~~
  • TANTAN ; with you [ ON GOING ]
  • Alisa's Story
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

More details
WpActionLinkContent Guidelines