Amelie
  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 3, 2025
Aku hanya merasa aman di dekatnya. Di usia 16 tahun itu, dia memberiku banyak perhatian yang tidak aku dapatkan dari siapapun. Dan aku, mempercayai orang yang benar. Hati yang tidak tenang, pikiran yang ingin meledak, ingatan yang mulai memudar, hati yang rusak, rasa yang telah hilang, isakan yang tercekat di tenggorokan, menciptakan rasa sakit yang tidak pernah sudah. Semuanya mengepul di kepala. Lalu turun menjadi air mata, kamu tau? Satu satunya hal yang kubutuhkan sejak dulu, adalah kewarasan diri. Karena aku baru sadar, bahwa siapapun bisa kehilangan kewarasan tanpa mereka sadari, contohnya kehilangan diri sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • I Love You
  • Say you LOVE me
  • SasuHina - Love Story
  • You And I
  • Why?? Kumpulan Cerpen✔
  • Home (Completed) (Repost)
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • HATI💔 YANG TERPILIH

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines