Kutitip Rindu pada Cinta Pertamaku

Kutitip Rindu pada Cinta Pertamaku

  • WpView
    Reads 85
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 24, 2025
Di dalam rumah sederhana itu, suara televisi masih menyala, namun tak ada yang benar-benar memperhatikannya. Kipas angin berdiri di pojok ruangan, berputar pelan, mengisi keheningan yang sesekali dipecahkan oleh suara sendok beradu dengan piring dari ruang makan. Damar duduk di sofa, tubuhnya sedikit bersandar, kedua tangannya saling bertaut di atas lutut. Ia menatap ke arah meja makan di mana Laras tengah menikmati makan malamnya. Tatapannya tidak biasa-ada sesuatu di dalamnya. "Laras, sini. Duduk dekat Mas. Ada yang mau Mas bahas." Suara Damar terdengar datar, tapi cukup untuk membuat Laras yang sedang menyuapkan nasi terakhirnya terhenti. Sejenak, ia hanya diam, sendok di tangannya menggantung di udara, sementara dadanya terasa berdebar lebih kencang dari biasanya. Ada sesuatu dalam nada suara Damar. Sebuah ketegasan. Sebuah keseriusan. Dan Laras tahu, ia bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.
All Rights Reserved
#41
wpindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • Menikah Dengan Mantan? (END)
  • BUNGA TERAKHIR [REVISI]
  • SECANGKIR KOPI SEBELUM PULANG || END
  • Bukan salahmu
  • Rasya Vs Rasyid [END]
  • Dalam Diam | Hiatus
  • Strong Boy (End)

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines