Log Out
  • WpView
    Reads 361
  • WpVote
    Votes 87
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 21, 2025
"Ada berapa banyak doa yang kau langitkan dan menjelma jadi nyata?" Rhein tidak meminta banyak pada Tuhan. Dia hanya ingin Papa dan Mama berhenti bertengkar, mendapat perhatian cukup, dan diberi kebebasan menentukan pilihan. Namun, tidak ada perubahan yang terjadi. Semua doa yang diucapkan dengan penuh kesungguhan itu seolah-olah menyublim bersama udara kosong. Rhein berhenti meminta. Rhein tak lagi percaya. Jika Tuhan selama ini mengabaikannya, maka dia pun bisa bertindak serupa. Namun, mampukah Rhein benar-benar berpaling dari Tuhan? Atau jangan-jangan, ada alasan yang tersembunyi di balik doa-doa yang tak terjawab? - Coming of Age - ©2025
All Rights Reserved
#122
kepercayaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dia, Pangeran (Revisi)
  • Rasa yang Tak Pernah Pergi ( Paul Nabila ) | END
  • Permainan Takdir [TAMAT]
  • [LS1] RAINEESME (Completed)
  • Cinta Terakhir
  • Cinta Dua Arah ( On Going )✨
  • Tetangga Full Of Love
  • PAPA UNTUK RHEA: Ethereal Legacy
  • Belum Terlambat
  • EUFORIA

Joya Sheeva Atmaja, perempuan dengan sebutan "Peri Kecil" bagi Ayah kandungnya, kini mengalami banyak kepahitan dalam hidup. Kedua manik matanya telah dirampas untuk mempertontonkan adegan-adegan pilu yang menyengsarakan hidup ibunya. Kehidupan yang diagung-agungkan akan berjalan penuh kebahagian, ternyata menjadi jurang yang membawa segenap nestapa. Derai air mata telah jatuh bertubi-tubi seiring proses bertumbuhnya. Sayangnya, kesedihan itu tak cukup sampai di situ. Ia juga harus kehilangan cintanya. Cinta yang ia anggap sebagai kepercayaan terakhirnya. Kini, tak adalah yang tersisa atas nama cinta. Hidup terus berjalan, manusia-manusia baru bermunculan. Kini, ke manakah langkah kaki dan hati nurani itu memilih? Mungkinkah, masa-masa trauma itu akan kembali menjadi rentetan panjang tak berujung, ataukah berhenti menuju lorong penuh kebahagiaan? "Enggak ada kesedihan yang abadi, Jo. Karena kebahagiaan akan selalu punya ruang untuk hadir. Kita hanya perlu berdamai, berteman dengan bagian dari diri kita yang lainnya," ucap seseorang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines