Oh, Si Marjin

Oh, Si Marjin

  • WpView
    LECTURAS 54
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, jul 29, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
Aku nggak berani ngungkit kenangan-kenangan kita, buat ngebentuk persepsi seolah kamu harus terus bareng sama aku. Aku cuma mau ungkapin gimana rasanya jadi Gendhis remaja. Gendhis yang bersama Marjin. Marjin, Gendhis remaja itu yang dulu bonceng kamu tiap hari. Yang selalu hafal aroma khas jaketmu dan yang selalu peka sama knalpot motor tua kamu. Sekarang Gendhis masih sama kaya dulu: pemalu, manja dan penakut. Bahkan, sejujurnya aku takut tumbuh dewasa kalau harus jauh dari kabar baik burukmu. Tapi, rasa takutku itu bukan tanggung jawab kamu, kok. Aku selalu ngelawan takut itu. Aku bisa sendiri.
Todos los derechos reservados
#100
karier
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • PENGERAJIN DAN PEDANG LEGENDARIS
  • Plot Twist Sang Figuran (TERBIT)
  • Suddenly Becomes Samara In The Novel
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (END)
  • KACA DIMENSI
  • INFINITY
  • To the Happy Ending✓
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪

Di sebuah negeri kuno, para pendekar hebat bertarung bukan hanya dengan kekuatan, tapi juga dengan jiwa pedang yang ditempa oleh Pengerajin Agung. Cerita berfokus pada Arka, seorang pengerajin muda yang tanpa sengaja menempa pedang legendaris yang dapat memilih tuannya sendiri. Namun pedang itu justru menyatu dengan dirinya. Arka harus bertarung, belajar, dan melintasi negeri penuh konflik demi menemukan rahasia warisan darahnya-bahwa ia bukan hanya pengerajin biasa, tapi penerus klan pembuat pedang suci yang telah punah. Halaman 1: Desa Tempa Api Panel 1: Gambar: Sebuah desa di lembah pegunungan, asap mengepul dari bengkel-bengkel besi. Teks narasi: "Di lembah terdalam negeri Nirbara, suara palu lebih nyaring dari doa..." Panel 2: Gambar: Seorang pemuda berkeringat, memalu besi dengan wajah penuh tekad. Teks dialog (Arka): "Aku tak akan menempa untuk perang. Tapi untuk harapan." Panel 3: Gambar: Pedang separuh jadi di atas tungku menyala. Api menyala tidak biasa-berwarna biru lembut. Teks narasi: "Tapi api punya kehendaknya sendiri..." --- Halaman 2: Percikan Tak Biasa Panel 1: Gambar: Arka meneteskan darah di besi tanpa sengaja. Teks narasi: "Sedikit luka, namun cukup untuk membangkitkan sesuatu yang lama tidur." Panel 2: Gambar: Besi menyerap darah dan mulai bersinar samar. Teks dialog (Arka): "Apa ini...?" Panel 3: Gambar: Pedang melayang perlahan dari tempatnya, belum selesai, tapi hidup. Teks narasi: "Ia belum jadi. Tapi sudah sadar." Kutipan halaman: "Tak semua yang hidup harus bernapas. Ada yang cukup dengan luka."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido