Perempuan Pemeluk luka

Perempuan Pemeluk luka

  • WpView
    Reads 141
  • WpVote
    Votes 125
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 21, 2025
WpInfo
Fanfic
1Direction
anak perempuan yang harus di tuntut untuk menjadi sempurna. Bahkan dunia tidak mengizinkan dirinya untuk bahagia "kenapa tiap kali aku merasa bahagia selalu saja ada masalah yang datang, apa aku di kutuk oleh dunia?" -Nemara "bunda cuman ingin yang terbaik buat adek" -Ratna "ini yang nda bilang terbaik buat adek?, adek capek nda. adek ingin istirahat sebentar aja boleh ngga?" -Nemara Nemara Hasya anak ke 2 dari 2 bersaudara, Nemara yang seharusnya mencari jati diri dan mengejar mimpi harus di tuntut untuk menjadi apa yang orang tuanya inginkan. Nemara memiliki mimpi besar yaitu menjadi penulis terkenal ia ingin karya ciptaannya di kenal oleh banyak orang. tapi orang tua Nemara tidak setuju dengan mimpinya. hingga jika ketahuan oleh ibunya maka dia akan terkena hukuman. "kamu ngga usah menulis hal hal yang ngga penting kayak gitu, kalau kamu masih membantah kamu bunda hukum!." Nemara seperti seekor anak burung yang tak bisa lepas dari induknya. berharap dunia masih berada di pihak nya walau hanya sebentar. memberikan kesempatan merasakan bahagia tanpa adanya masalah baru muncul. "kapan aku bisa tertawa dengan bebas? selalu saja setiap kali aku tertawa dan tersenyum, masalah selalu datang padaku." -Nemara akankah Nemara bisa bebas dari semua tuntutan yang di berikan oleh orang tuanya?. apakah dunia memang benar benar mengutuknya?.
All Rights Reserved
#265
masalah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • save me
  • ASMARALOKA || Love or Reality?
  • Five wishes! [SM Family]
  • NEVER CHANGE ME & YOU
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • GRIZLEN {On Going}
  • NOESIS [END]
  • Sulung

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines