Dia Semesta

Dia Semesta

  • WpView
    Leituras 11
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Capítulos 2
WpMetadataReadConcluída dom, fev 9, 2025
Cerita ini ku tulis sebagai bentuk rasa syukurku kepada semesta, karena telah dipertemukan dengan seorang wanita bernama Selfia valentine. Seseorang yang telah merubah semua pandangan hidupku dan orang yang paling berarti bagi diriku. Bertemu dengannya membuatku sadar bahwa sebenarnya apa yang aku cari selama ini ternyata ada di depan mataku. Semua hal, perasaan dan juga waktuku hanya untuk Selfia Valentine.
Todos os Direitos Reservados
#349
flower
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • C
  • DEAR RAGA
  • Happy Ending
  • Semesta
  • Senyum dan Usaha : Kisah Kita
  • Meneroka Jiwa
  • Tak Seindah Matahari
  • When I Meet You
  • Lamento de Amour
C

"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo