The House We Would Share
"I'm the fucking top here!" seru Wyntera dengan nada menantang.
"Shut, the fuck up," balas Kaleen datar, tanpa repot menoleh.
"...."
__________________________
Wyntera dan Kaleen bukan dipertemukan oleh cinta, melainkan oleh dua ayah yang terlalu yakin bahwa kepercayaan bisa diwariskan, dan tanggung jawab bisa dipaksakan.
Saat orang tua mereka harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, Kaleen dititipkan untuk tinggal serumah dengan Wyntera. Alasannya sederhana: agar Wyntera tidak sendirian. Kenyataannya? Dua orang keras kepala dipaksa berbagi ruang, waktu, dan batasan yang sama.
Singlet, topi, hoodie, dan sneakers adalah identitas Wyntera. Cewek sok kuat, berisik, selalu ingin menang, dan alergi diatur. Rumah itu adalah wilayahnya, sampai Kaleen datang dan mengacak semua rutinitasnya dengan sikap tenang, dingin, dan terlalu dewasa untuk dilawan.
Kaleen bukan tipe yang banyak bicara. Penjaga UKS, terbiasa merawat orang lain, dan selalu menjaga jarak. Tapi entah bagaimana, kehadirannya perlahan meruntuhkan pertahanan Wyntera, membuatnya diam, menurut, bahkan mencari-cari alasan untuk tetap dekat dengannya.
Ini bukan cerita tentang cinta pada pandangan pertama.
Ini tentang dua orang yang awalnya saling benci, terjebak dalam satu rumah, dan tanpa sadar belajar merasa aman satu sama lain.
Pertanyaannya tinggal satu:
Bagaimana bisa Kaleen mengubahnya?
__________________________
- Harsh Words
- Non-baku (Mix)
- Kartop
© Navieewg