Tasbih Cinta dari Anatolia

Tasbih Cinta dari Anatolia

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 8, 2025
Di antara doa dan takdir, ada perjalanan hati yang tak terduga... Ayra Safiyyah, seorang akademisi muda dari Indonesia, datang ke Turki bukan hanya untuk penelitian, tetapi juga untuk menemukan jawaban atas kegelisahan hatinya. Di Kayseri, ia bertemu dengan Mustafa Ghaziy, seorang pengrajin tasbih yang menjalani hidup dengan kesederhanaan dan ketulusan. Di balik butiran tasbih yang diukirnya, tersimpan doa-doa yang belum menemukan pemiliknya. Ayra dan Mustafa terhubung oleh takdir yang samar, tetapi jalan mereka penuh dengan keraguan dan ujian. Ümeyra, sahabat masa kecil Mustafa, diam-diam menyimpan perasaan untuknya. Ömer, sepupu Mustafa yang ambisius, melihat Ayra sebagai tantangan baru. Sementara itu, nasihat seorang sufi bijak dan pesan dari masa lalu perlahan menuntun mereka pada pemahaman yang lebih dalam tentang cinta dan ketetapan Ilahi. Di Cappadocia, di bawah langit yang dihiasi balon udara dan senja keemasan, Ayra dan Mustafa harus menentukan apakah perasaan mereka hanyalah persinggahan atau bagian dari takdir yang telah tertulis sejak lama. Sebuah kisah tentang pencarian, keyakinan, dan cinta yang tak sekadar duniawi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta Ikhlas
  • Diatas Sajadah Kuraih Cinta Mu
  • Bersama dalam Takdir-Nya (Tamat)
  • Cinta Dalam Iman
  • Sujud Dan Senjata
  • BUKAN PILIHAN KU
  • Qiyamah Senja-completed
  • Dibawah Cahaya Takdir
  • Gus Dan Gadis Bunga (End)

Pertemuan pertama mereka terjadi secara tidak sengaja. Ade, seorang pemuda yang sederhana dan religius, menemukan sebuah buku yang tertinggal di sebuah taman. Beberapa hari kemudian, di tempat dan posisi yang sama, ia kembali menemukan sebuah tasbih, lalu di hari berikutnya sebuah gelang. Ketiganya ternyata milik perempuan yang sama-Desi, seorang mahasiswi cerdas dan santun. Saat Desi kembali ke taman untuk mengambil gelangnya, ia terkejut melihat buku miliknya sedang dibaca oleh Ade. Pertemuan singkat itu membuka percakapan pertama mereka. Meski terkesan dingin, Desi meninggalkan kesan mendalam bagi Ade. Takdir terus mempertemukan mereka, mulai dari pertemuan tak sengaja di lampu merah hingga obrolan ringan di taman masjid. Namun Desi menjaga jarak dan memberi syarat, jika Ade sungguh ingin mengenalnya, ia harus menemui ayahnya langsung. Bagi Desi, cinta bukan sekadar rasa, tapi tentang adab dan restu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines