ARUM
  • WpView
    Membaca 116
  • WpVote
    Vote 18
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Feb 14, 2025
WpInfo
Fiksi
Misteri
"Tadi malam aku memandang lama ke arah langit, lalu langit berbicara padaku. Katanya, ia mengizinkanku untuk melakukannya hari ini juga ..." Berkat hujatan yang ia terima karena tidak memberikan keterangan pada kasus bunuh diri seorang siswa, Irish, memutuskan libur selama satu minggu ke Kota Moja, tempat masa kecilnya. Di sana, ia kembali dipertemukan dengan teman lama yang terlupakan, Arum. Hanya saja, ada yang berbeda dari Arum sepeninggalannya. Gadis itu tumbuh dengan tidak wajar, tampak kumuh, tidak terurus, tidak bersekolah dan sering mendapati kekerasan fisik serta mental dari keluarganya sendiri. Tidak seperti gadis seusianya. Liburan sekolah yang tadinya hanya sebagai alasan untuk menenangkan diri, berubah menjadi skenario membentuk kepribadian Arum menjadi gadis seutuhnya dan melarikan diri dari neraka yang disebut rumah. Ketika semuanya tampak sesuai rencana, takdir seakan tidak mengizinkan hal itu berjalan dengan mulus. Ketika Irish dihadapkan dalam dua pilihan yang sangat besar, ia harus bisa menentukan dengan tepat. Karena, kalau ia salah memilih maka "monster" yang tertidur dalam diri Arum akan terbangun. Jika sudah begitu, maka Irish benar-benar sial.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#24
ponyowritingcontest
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Let Me Love You Longer
  • MY PETERPAN ALEN
  • Bunuh Saja Aku Tuhan
  • Memeluk Hujan
  • MIXTURE! (About Secrets)
  • The Dark Side(END)
  • Brave Alone

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan