Manuskrip Alusi

Manuskrip Alusi

  • WpView
    Reads 212
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 15, 2025
Satu di antara mereka punya mimpi mengiringi bintang angkasa, tapi tak punya roket untuk terbang sampai ke sana. Satunya lagi punya roket untuk menguasai semesta, tapi ia tak ingin melalang buana. Ada yang diam-diam tidak ingin menjadi kegagalan, sialnya masih bersikap pecundang. Ada yang ingin mencoba menjadi super star bermodal sorot kamera hape, dan ada yang tidak ingin menjadi apa-apa. Kemudian Klub Manuskrip dibentuk, untuk menulis setiap mimpi, harapan, dan keputus asaan mereka. Klub Manuskrip. Manuskrip Alusi. Sayangnya, setelah kabar kematian mengejutkan Yuan Auriga si ketua klub. Anggota klub Manuskrip berkumpul menulis tuduhan kecurigaan-kecurigaan tiap anggota tentang alasan kematian Yuan. Namun bagaimana kalau sebenarnya, setiap anggota dapat menjadi alasan seorang Yuan Auriga mati bunuh diri. Tapi apa benar Yuan Auriga yang sempurna itu bunuh diri? "Tapi setidaknya Yuan bisa benar-benar istirahat, kan?"
All Rights Reserved
#18
klub
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS
  • Breathless ✔
  • GASLIGHTING
  • Madness
  • FIX YOU [TERBIT]
  • Chronophobia Vol 1 - Merpati (LENGKAP)
  • (TERBIT CETAK) Rasi Bintang di Titik Kulminasi
  • Project : NOIR
  • The Lost Twin (First Version)
  •  Empathy (On-Going)

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines