Bagi Raga, hidup adalah tentang kemenangan. Sejak kecil, dia dibentuk untuk menjadi yang terbaik, menjaga nama baik keluarga Anggara, dan memastikan bahwa kejayaan tetap berada padanya.
Sebagai bagian dari keluarga Anggara, dia tumbuh dengan satu tujuan yaitu menjadi simbol keberhasilan. Bukan hanya sekadar pilihan, tapi kewajiban.
Sementara itu, Lara berjuang bukan untuk nama siapa pun, melainkan untuk membuktikan bahwa dirinya pantas diperhitungkan. Bahwa dia bisa sukses, meski dunia meragukannya.
"Percuma aja sekolahin kamu, kamu gak bakal jadi orang sukses."
Kata-kata itu terus terngiang di benaknya, menjadi api yang membakar tekadnya. Lara tidak pernah meminta banyak, hanya satu hal, yaitu diakui.
Ketika mereka dipertemukan sebagai ketua dan wakil ketua OSIS, persaingan berubah menjadi pemahaman. Lara melihat luka yang tersembunyi di balik kesempurnaan Raga, dan Raga menemukan kehangatan yang selama ini tak pernah ia rasakan, ambisi yang awalnya saling bertabrakan kini mulai menyatu dalam kebersamaan.
Namun, satu rahasia menghancurkan segalanya.
Dia bukan Raga Putra Anggara
Selama ini, dia hidup dalam kebohongan. Setiap kemenangan yang ia raih, setiap pengakuan yang ia dapatkan-ternyata bukan miliknya.
Walaupun mengetahui itu, bukannya menjauh, Lara tetap disampingnya, tidak hanya sebagai teman atau rekan, tetapi sebagai orang yang tulus mencintainya. Di antara kehancuran itu, perasaan yang dulu samar kini menjadi semakin jelas.
Namun, bisakah cinta bertahan di tengah identitas yang runtuh?
Dan apakah Raga masih bisa mencintai, ketika ia bahkan tak tahu siapa dirinya sendiri?
"Inisiatif?" Kalimat itu masih terngiang dibenak Rara. Dia merasa bodoh telah menanyakan hal itu kepada Tara, lagi-lagi memang dia siapa harus dengan tulus orang lain menolongnya atau baik dengannya? Dia hanyalah gadis yang menumpang hidup di rumah orang lain, dan sudah sepatutnya pula orang lain--bisa tak dengan tulus baik padanya.
Namun apa yang Rara rasakan sebagai sebuah situasi tak menyenangkan kembali timbul. Sebuah keraguan yang dulu sempat menghantuinya kembali muncul kepermukaan, soal, apakah keluarga ini benar-benar sudah sepenuhnya menerimanya? apakah keluarga ini sudah benar-benar menganggap Rara bagian dari keluarganya sekarang?