Perihal Sampai Kapan

Perihal Sampai Kapan

  • WpView
    Reads 331
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 62
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 28, 2025
Di tepi dermaga yang sunyi seorang perempuan setia menanti kekasih yang pernah berjanji akan kembali. Ombak terus menghantam bebatuan, angin membawa bisikan kenangan, Namun kepastian tak kunjung datang. Waktu berlalu, membawa kenangan- haruskah ia tetap berharap atau merelakan? Kisah ini mengalunkan dalam bait-bait puisi, merangkum cerita, kesetiaan dan penantian yang berhadapan dengan ketidakpastian. Akankah rindunya karam bersama senja, atau takdir mempertemukan mereka kembali?
All Rights Reserved
#10
puisiluka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Selepas Senja Pergi
  • Puisi Romantika Kuno
  • The Last Birthday With You
  • Ruang Kosong di Antara Jingga
  • A Love Lost Beneath the Blue
  • Aksareya
  • En Rêve [COMPLETE]
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • ANGKASARAYA

Ardika dan Amira adalah dua orang yang bertemu di antara kebetulan-kebetulan kecil-sebuah kertas yang terbuang, sebuah sapaan sederhana di taman kampus. Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan itu akan membawa mereka pada kisah yang lebih panjang dari sekadar percakapan ringan di bangku taman. Sampai Ardika akhirnya mengerti. Bahwa cinta tidak diukur dari seberapa lama seseorang tinggal, tapi dari bagaimana ia tetap hidup, bahkan setelah senja pergi. ... Di persimpangan jalan, Ardika berhenti. Menatap langit yang bersih tanpa awan, hanya bintang-bintang yang berkelip kecil, seolah mengamati langkahnya dari jauh. Ia tersenyum, lalu menutup matanya perlahan. "Cinta itu tidak menunggu untuk dimiliki," bisiknya kepada malam. "Ia hanya ingin dirayakan, meski pada akhirnya ia harus pergi." Sejenak ia diam, membiarkan hatinya yang bicara. "Aku menulis namamu di antara bintang-bintang, supaya aku tahu ke mana harus menatap ketika rindu. Aku bisikkan namamu kepada angin, supaya ia membawanya ke mana pun aku pergi. Aku simpan suaramu dalam detak jantungku, supaya aku bisa mendengarmu. Dan aku akan selalu mencintaimu, seperti angin mencintai laut, seperti malam mencintai bintang, tanpa perlu bertanya kapan harus berhenti, bahkan Selepas Senja Pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines