One More Day (One)

One More Day (One)

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 16, 2025
Ia berdiri di atas gedung, memandangi langit yang kelabu di matanya. tatapannya kosong memandangi dunia dibawahnya, Setelah kenangan indah telah jatuh terkubur bersama sahabatnya yang telah meninggal akibat kecelakaan tabrak lari yang juga menghadiahinya sebuah penyakit hemofilia, yaitu gangguan pada pembekuan darah. Juga orang tuanya yang telah terpecah belah, harapannya untuk menjadi pelukis telah mustahil di gapainya. Ia sudah tidak bisa melihat kehidupannya lagi. dalam hatinya cuma ada satu, ingin segera mengakhiri semuanya. suatu langkah lagi nyawanya akan melayang. tetapi sebuah tangan ajaib menariknya kembali, bahkan berhasil mengubah jalan Ia sebagai manusia. ia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. "maukah kau menemaniku?" "Menemani...?" Ia mengangkuk. "Menelusuri kenangan-kenangan indah." Ia bernama One, wujud dirinya yang telah meninggal yang ingin mengubah hidup Ia, sebelum akhirnya meninggal sepertinya. namaku One. "Terkadang aku berpikir... Mungkin ini hanya mimpi yang panjang... Jika, benar begitu... Saat aku terbangun, Kemana aku harus pergi?..."
All Rights Reserved
#60
slideoflife
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • My Brother[Sequel Mianhae My Brother]
  • ʙᴀʀʙᴀʀ [ʟᴏᴏᴋɪꜱᴍ x ʀᴇᴀᴅᴇʀ] ✓
  • The Bridge Between Souls
  • l'm Fine :) [ON GOING]
  • My Life ( Lookism edition )
  • Jejak Waktu [Complete]
  • ALVIN (On Going)
  • Impossible

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines