Selalu Ada Campur Tangan Tuhan

Selalu Ada Campur Tangan Tuhan

  • WpView
    Reads 262
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 22, 2015
Cinta, kadang aku sendiri tak mengerti apa itu cinta. Penantian yang tak berujung batas kah? Janji setia sampai mati kah? Atau malah pengkhianatan yang tiada akhir. Ah, aku sendiri bingung mengartikannya. Aku pengecut? Ya! Aku terlalu pengecut untuk jujur bahwa masih mencintainya. Aku terlalu pengecut untuk mengakui jika merindukannya. Pengecut karena tak bisa marah melihat fotonya yang tersenyum dengan istrinya. Padahal aku hanya ingin dia mengingatku. Ya, aku memang seorang pengecut. Sampai Tuhan menjawab keinginanku yang tertutupi kata ‘pengecut’. Ya, dia akan selalu mengingatku, karena anak perempuannya lahir tepat pada tanggal lahirku, tepat pada tanggal tiap kenanganku. Tuhan telah ikut campur dalam kehidupan kami. Aku tak ingin dia melupakanku, seumur hidupnya. Seperti aku yang tak pernah melupakannya, melupakan semua janji dan kisah tentang kami. Cukuplah mengenangnya dalam hati dan pikiranku. Selamanya. Karena di sini aku juga telah punya keluarga baru. Keluarga yang telah membuat hidupku lebih berwarna, suami dan anakku. Masa depanku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Im Momma?    (END)
  • TEOLOGI CINTA
  • CHEOSSARANG (Complete)
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • Ego Cinta
  • JANGAN PANGGIL AKU LARAS
  • Setelah Hujan ( End ✔)
  • INCANTO (Tamat)
  • Embun Pagi
  • Too Good To Be (True) Dominan [END]

(#Musim kedua) Aku mendapatkan sebuah kehidupan yang lebih sempurna di bandingkan para adik-adikku. Aku berhasil lulus pendidikan menengah atas, ketika para adik-adikku harus menerima kenyataan bahwa mereka telah kehilangan orangtuanya saat masih kecil. Itulah mengapa aku tidak pernah mengeluh mengambil semua tanggung jawab orangtuaku untuk membesarkan dan menyekolahkan adik-adikku. Aku memiliki banyak adik, dan itu membuat aku tidak memiliki waktu untuk mengeluhkan orangtuaku yang memilih jalan instan, yaitu bunuh diri di depan-depan kami untuk melepaskan tanggung jawab itu. Hanya saja, ketika aku merasa sudah bebas karena telah selesai menyekolahkan dan membesarkan mereka dengan baik, aku terbangun di sebuah tempat asing dengan sistim yang berbeda dengan duniaku dulu. Lalu sebuah fakta lainnya mengejutkanku, dimana aku kembali memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, yaitu membesarkan tiga anak yang telah mengalami penyiksaan sejak mereka lahir. Di dunia baru itu, aku terkenal sebagai seorang antagonis yang gemar melakukan penyiksaan dan pelecehan terhadap ketiga anaknya, lantaran tidak mendapatkan kasih sayang dari suami yang merupakan seorang kaisar di tempat itu. Sungguh sangat kacau, ketika pikiran modrenku harus beradaptasi dengan dunia penuh kasta ini. Apakah aku berhasil merawat dan menyelamatkan ketiga anak itu, dengan asumsi aku akan kembali ke duniaku sendiri, dimana para adik-adikku sudah menunggu atau aku telah terjebak di dunia itu selamanya dan harus menerima fakta bahwa aku seorang Ibu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines