Getaran Sentuhan Cinta (END)

Getaran Sentuhan Cinta (END)

  • WpView
    Reads 39,610
  • WpVote
    Votes 592
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 24, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Bruk "Sorry gak sengaja" "Hati-hati dong kalau jalan" vilsa melotot menatap baju crop top nya basah Karena tersiram air minum. Suara dentuman musik menggema di ruangan hiburan malam ditengah kota ini. "Sorry, tangan gue kesenggol orang" ucap santai Jefri karena air minumnya tumpah dan mengenai cewek di depannya. Suasana ramai dan penuh di cl*b ini membuat suasana semakin gila-gilaan dan membuat orang bersenggolan. Setiap malam minggu cl*b ini memang tidak pernah sepi, dari kelas VIP sampai yang VVIP selalu penuh oleh orang-orang yang menikmati indahnya dunia dan nikmat nya dunia. Jefri baru pertama kali lagi datang ke cl*b seperti ini, mengingat sudah lama tidak cl*b lagi karena faktor pekerjaan yang sibuk, sebelum Jefri bisa tiap minggu ke cl*b ini, namun karena jefri ditugaskan di kota lain selama berbulan-bulan, membuat Jefri menjadi linglung mengingat cl*b ini banyak berubah mengingat kali ini lebih banyak ruangan privasi dari tata letak aula yang terlihat lebih sempit namum terdapat lantai dua untuk aula yang lebih besar lagi. "Gimana sih, liat nih baju gue basah" marah vilsa kepada Jefri yang terlihat biasa saja. "Ya terus gue harus gimana?" Tanya Jefri malas "ganti lah bego" "berapa?" Jefri mengeluarkan dompet nya "500 RB" padahal baju crop nya hanya harga 200 RB, tapi vilsa mengatakannya 500 RB karena kesempatan tidak datang dua kali kan? "Murah" Jefri memberikan uang tunai 500 RB kepada vilsa. "Apa Lo bilang hah" marah vilsa saat Jefri mengatakan murah, apakah Jefri sedang menyindir nya atau mengejek nya. "Murah" senyum mengejek terpampang di wajah Jefri saat mengeluarkan uang 500 RB itu. "Lo akan bayar mahal untuk ini" vilsa menarik Jefri ke ruang kamar yang tersedia di cl*b ini. selamat membaca
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 1, Bunga di Taman Hati
  • JASA [TAMAT]
  • As Possible
  • Human Living (Slow update)
  • My Crush Boy Next Door (END) -TAHAP REVISI
  • Langkah baru bersama mu
  • MY BOS IS MY (HUSBAND)-(YIZHAN) (END)✔️
  • cinta dingin sang ketos

"Fabian..." Mami menatapku. "Yakin, Ian mau kalau dijodohin?" "Kalau semua ikhlas, aku yakin, Mi." Aku terus menatap mata ibuku. "Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir." Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. "Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa." "Gimana bisa?" Aku masih memasang wajah bodoh itu. "Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya." Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. "Ini foto calonnya." "Aku setuju, Mi." Aku tetap menatap wajah Mami. "Ian nggak lihat dulu anaknya?" "Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua." "Ian lihat dulu deh..." Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? "Mami...??" Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. "Nggak salah nih, Mi...?" "Kenapa? Ian berubah pikiran?" "Masih ABG beginiii...!!!" "Oh... itu foto dia masih kelas X." "Sekarang?" "Balik foto itu," perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. "Mami...?" Kupasang wajah bodohku sekali lagi. "Ini beneran?" "Ya benar lah." "Ini mahasiswa aku, Mi.... Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku." "Sepertinya begitu," jawab Mami maklum. "Ada masalah dengan itu?" Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. "Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?" "Nah, pertanyaan bagus." Mami menepuk bahuku. "Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah." Haaahhh??? ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines