Purrfect Life

Purrfect Life

  • WpView
    LECTURES 35
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Chapitres 3
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., févr. 14, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Jika bisa sempurna, kenapa harus biasa saja? Luna curiga ini adalah moto orang tuanya. Soalnya, Luna selalu dituntut sempurna di semua hal. Bahkan, Papa dan Mama sudah menyiapkan peta hidup Luna: harus ikut ekskul apa, harus masuk jurusan apa di universitas mana, nanti kerja apa, dan banyak lagi. Luna sampai berpikir, jangan-jangan jodoh sempurna Luna juga sudah disiapkan mereka juga! Namun, Luna merasa dirinya jauh dari sempurna. Rasa cemas dan tertekan sering menghampirinya, apalagi kalau Luna dibandingkan dengan The Great Leon, kakaknya yang sungguh sempurna. Saat Luna terpuruk karena lagi-lagi dirinya tidak bisa menampilkan sosok siswi sempurna, Luna bertemu dengan seekor anak kucing liar. Merasa senasib, Luna membawa kucing yang diberi nama Momo itu pulang. Bisakah Momo membantu Luna menemukan kebahagiaan dan jadi versi terbaik dirinya tanpa harus jadi sempurna?
Tous Droits Réservés
#59
anxiety
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Reynand & Joya | END
  • As We Are
  • Riuh Dalam Sunyi
  • KETUK(ER)
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • 𝐀𝐁𝐑𝐄𝐀𝐊𝐒𝐈
  • Leo & Lea [TERBIT]
  • A Way Out [END]

Follow sebelum baca yuk, untuk mengikuti ceritanya. #645 dalam TEEN FICTION-11/3/2018 #961 dalam TEEN FICTION-9/2/2018 "Kuda poni! Dasar jelek, sinting, kutu kupret, tai lo. Maju sini, gue telen lo hidup-hidup!" teriak Joya mengerahkan semua kekesalannya. Ia bersumpah serapah tanpa berpikir mengampuni orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. "Nggak usah teriak-teriak, gue di sini." Suara orang tersebut berada di atas pohon dekat parkiran. Reflek, kedua gadis itu menengadah, menatap pemuda nakal yang nangkring di atas sana. "Turun lo!" perintah Joya seraya berkacak pinggang. "Mau apa? Mau cium gue, ya? Idih nakal." Pemuda itu malah membuat Joya semakin kesal. Ocehannya selalu saja ampuh membuat hari-hari gadis itu semakin runyam. "Najis. Mati aja lo, pengecut!" Joya masih kesal, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tidak terkontrol. "Kurang banyak sih, 'kan cuma kempes, nggak sampai penyok." Rutinitas nakalmu berujung terbiasa. Kalo pengen tau terutama Baca selengkapnya ya..... (Di larang mengutip atau menjiplak sebagian/keseluruhan cerita ini tanpa izin)

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu