Dalam dunia sains modern, batas antara penemuan dan bencana seringkali sehalus membran sel. Dr. Sarah Wulandari memahami ini dengan baik. Namun, hasrat murninya untuk memahami misteri terdalam kehidupan membawanya menembus batas yang mungkin... seharusnya tetap utuh.
Terobosannya yang brilian membuka pintu ke dimensi yang selama ini hanya bisa dibayangkan - dunia di balik mikroskop, tempat di mana definisi 'hidup' menjadi begitu... ambigu. Di sana, dalam orkestra molekuler yang sempurna, Sarah menemukan bahwa beberapa melodi mengikuti partitur yang sangat berbeda.
Ketika paradigma ilmiah bertemu dengan enigma eksistensial, Sarah harus menghadapi pertanyaan yang menggetarkan: dalam pencarian untuk memahami kehidupan, seberapa dalam kita bisa menggali sebelum kehidupan itu sendiri... membalas tatapan kita?
HEMAXIS adalah odyssey sains yang akan mengajak Anda menyusuri labirin molekuler, di mana setiap belokan menyimpan teka-teki, dan setiap jawaban melahirkan seribu pertanyaan baru. Karena terkadang, penemuan terbesar datang dari memahami bahwa ada hal-hal yang lebih baik... tetap menjadi misteri.
"Sebuah masterpiece yang mengundang Anda menyelam ke dalam kompleksitas eksistensi, hanya untuk menyadari bahwa Anda mungkin tidak sendirian dalam penyelaman itu."
- Jurnal Biomedika Quantum
"Menggetarkan, brilian, dan sangat... mengganggu - dalam artian yang paling baik."
- Prof. Dr. K. Richards, Institut Teknologi Biomolekuler
Pernahkah kau bertanya pada dirimu sendiri...
"Apa hakikat kebenaran, jika setiap sudut pandang melahirkan kenyataan yang berbeda?"
Pernahkah kau bertanya...
"Seperti apa rasanya menjadi lebih dari orang lain, ketika dunia sendiri tak mampu menanggung beban kekuatan itu?"
Pernahkah kau bertanya...
"Adakah cinta sejati di dunia ini, ataukah ia hanya ilusi yang bertahan sepanjang waktu?"
Ketika batas antara sains dan takdir memudar, kami menemukan bahwa dunia yang kami kenal hanyalah serpihan kecil dari kebenaran yang lebih besar - dan kami bukanlah sekadar anak-anak biasa.
Di persimpangan waktu dan ruang, di mana kemungkinan bercabang tak terhingga, satu pertanyaan terakhir tersisa:
Apakah manusia mengendalikan nasib, ataukah mereka hanya boneka dari hukum alam yang tak terjamah?