hiraeth || transmigrasi

hiraeth || transmigrasi

  • WpView
    Reads 337
  • WpVote
    Votes 66
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 28, 2025
mata kaindra mulai mengerjap dan menyesuaikan dengan terik cahaya yang sedikit mengganggu, ia mulai bangun dan menyadari bahwa ia berada di ruangan asing, memang itu hanya seperti sebuah kamar pada umumnya namun "bagaimana ia bisa sampai disini?" pikir kaindra, karena jika ia bangun bukankah ia seharusnya berada di rumah sakit sebab kecelakaan mobil yang menimpanya kemarin, mengapa ia disini dan mengapa tubuhnya juga tidak terasa sakit, bukankah ia baru saja mengalami kecelakaan. ini aneh sekali pikirnya karena penasaran ia mulai bangkit dan menyusuri kamar yang ia tempati sekarang sampai perhatiannya tertuju pada sebuah cermin panjang full body di samping meja "AGH! SIAPA INI?! mengapa muka ku jadi berubah seperti ini, apa karena efek kecelakaan kemarin? tapi ini terlalu berbeda dengan diriku yang lama dan kenapa tidak ada bekas luka diwajahku" kaindra terheran sampai ia menyadari sesuatu "wajah ini mirip dengan ilustrasi sebuah tokoh novel yang wanita asing itu berikan" 'jangan jangan' kaindra menggeleng ribut untuk menghalau segala pikiran buruk yang kemungkinan terjadi, tapi ini terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi ••• ga terlalu bisa buat deskripsi, boleh langsung baca aja happy reading^^
All Rights Reserved
#2
bernard
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dalam Diam, Aku Pamit [ TAMAT ]
  • Ekspektasi
  • Kemana Arah Pulang?
  • HAGA : Becoming the Father of the Villain Twins
  • Askara Leonard (Re-Upload) [END]
  • Xyzie Andrean
  • A LIFE UNVEILED
  • Candrakanta || Zhong Chenle (On Going)

Jika diberi pilihan, Kanaya ingin tetap hidup seperti biasa, bangun setiap pagi, berangkat ke sekolah, bercanda dengan sahabatnya, dan pulang ke rumah untuk mendengar ocehan kakaknya. Namun, kenyataan tidak sebaik itu. Hidup telah menuliskan akhir yang berbeda untuknya. Setiap detik yang berlalu bukan hanya hitungan waktu, tetapi juga pengingat bahwa ia tidak akan bisa melihat masa depan seperti orang lain. Ia tidak akan sempat dewasa, tidak akan sempat mengejar mimpi-mimpinya, dan mungkin... tidak akan sempat mengucapkan selamat tinggal. Tapi, Kanaya memilih merahasiakan semuanya. Baginya, kebahagiaan orang-orang yang ia sayangi lebih penting daripada kejujuran. Selama mereka masih bisa tertawa bersamanya, selama mereka tidak mengasihaninya, maka semua kepura-puraan ini masih bisa ia pertahankan. Namun, kebohongan tidak bisa selamanya disembunyikan. Lambat laun, kebenaran akan muncul-dan pada saat itu, Kanaya hanya bisa berharap mereka tidak membencinya karena telah menyembunyikan sesuatu yang begitu besar. Karena bagaimana pun juga, ini bukan kisah tentang seorang gadis yang bertahan. Ini adalah kisah tentang seseorang yang sedang berpamitan, dengan cara yang paling indah yang bisa ia lakukan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines