Alunan Mimpi
PROLOGAlunan Mimpi
Tahun 2020. Hujan turun perlahan di atas kota yang seakan enggan terlelap. Butiran air membasahi kaca jendela kamar Akbar Sastrawan, memantulkan cahaya lampu jalan yang samar. Ia duduk di tepi ranjangnya, menatap keluar dengan pandangan kosong. Bayang-bayang masa lalu menari di dalam benaknya, mengalun seperti melodi pilu yang tak pernah usai.
Sejak kepergian ibunya, dunia Akbar terasa seperti ruang kosong yang menggema dengan penyesalan. Wajahnya yang teduh selalu hadir di dalam mimpi, membawa kembali kenangan yang semestinya ia jaga dengan lebih baik.
"Ibu..." suara lirihnya nyaris tenggelam dalam deru hujan.
Aipda Sastrawan T, ayahnya, selalu berkata bahwa ini bukan salahnya. Syarifah Sastrawan, kakaknya, mencoba menenangkan dengan caranya sendiri, sibuk dalam rutinitas pekerjaannya di perusahaan BUMN. Sementara Imam Ahmad Sastrawan, adiknya yang kini seorang anggota TNI AD, tak pernah banyak bicara, tetapi tatapannya selalu penuh pengertian. Namun, semua itu tak cukup menghapus beban yang mengendap dalam hati Akbar.
Ia masih ingat hari itu-hari di mana dunia berubah selamanya. Kata-kata terakhir ibunya terngiang-ngiang di telinganya, membuatnya ingin berlari mundur, kembali ke masa lalu, mengubah takdir. Tapi kenyataan tidak mengenal belas kasihan.
Malam semakin larut. Angin membawa dingin ke dalam kamar, membuat Akbar memeluk dirinya sendiri. Di luar sana, kehidupan terus berjalan, tetapi di dalam hatinya, waktu seakan terhenti.
Dan di antara batas antara sadar dan mimpi, Akbar kembali mendengar suara lembut ibunya.
"Jangan biarkan penyesalan mengikat langkahmu, Nak. Teruslah berjalan..."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang