HUJAN DIANTARA KITA

HUJAN DIANTARA KITA

  • WpView
    Reads 44
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 12, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Alya tidak pernah menyangka bahwa pertemuan sederhana dengan Raka-seorang pemuda misterius yang gemar berdiri di tengah hujan-akan membawanya ke dalam labirin rahasia yang kelam. Semua berawal dari sebuah payung yang diberikan Raka kepadanya, tanpa penjelasan yang jelas. Sejak saat itu, rasa penasaran Alya tumbuh, terutama ketika ia melihat Raka menolak berteduh dari hujan dan mengatakan sesuatu yang membekas di benaknya: "Karena hujan nggak pernah ninggalin gue." Di balik sikapnya yang tenang dan tatapan matanya yang selalu kosong saat hujan turun, Raka menyimpan luka lama-sebuah kehilangan yang terus menghantuinya. Hujan bukan sekadar butiran air baginya, melainkan pintu menuju kenangan yang tak bisa ia lepaskan. Saat Alya mencoba menggali lebih dalam, ia menyadari bahwa semakin ia mendekat, semakin ia terseret dalam kisah masa lalu Raka yang menyakitkan. Namun, bisakah Alya mengubah arti hujan bagi Raka? Ataukah ia justru akan tenggelam dalam derasnya kenangan yang belum tuntas?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Kembalinya Hujan
  • RAKA
  • Hujan Yang Tak Pernah Reda (HIATUS)
  • RAIN SAMUDRA
  • EVELYN [SUDAH TERBIT]
  • PAYUNG DAN JANJI SETIA
  • antara hujan dan luka
  • Bulan Retak di Langit Senja

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines