Nyanyian Lilin

Nyanyian Lilin

  • WpView
    LECTURAS 2
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, feb 11, 2025
WpInfo
Poesía
Aku berdiri, tak goyah oleh angin, menyinari gelap dengan terang yang tenang. Mereka datang, mencari kehangatan, dan aku tersenyum, seolah tak ada yang hilang. Padahal dalam diam, aku pun meleleh, perlahan surut, terserap gelisah. Tapi siapa peduli pada cahaya yang lemah, selama ia masih bisa menerangi arah? Aku tak meminta genggaman, tak berharap ada yang bertanya, karena tugas lilin bukan mengeluh, melainkan memberi, hingga habis nyalanya. Namun kadang aku bertanya sendiri, adakah yang melihat, meski tak bersuara? Atau hanya bayanganku sendiri yang mengerti seberapa jauh aku berkorban? Malam bergulir, sunyi semakin dalam, sedang aku kian pendek dalam perjalanan. Tapi sebelum redup, sebelum padam, biarlah cahayaku tetap bertahan.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • "Tatapan Terakhir yang Tak Kujadikan Pertanda"
  • Hijrah Bersama Imamku
  • Titik Yang Benar
  • You're Here, But Not For Me
  • Kamu [SELESAI]✔
  • STAR'SMOON
  • In The Sunrise
  • DEVIL ON MY WINDOW
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Mahligai Sunyi

Malam itu, langit begitu gelap, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu jalan yang menyinari setiap sudut kota. Aku berdiri di depan gerbang rumah, menatap ke arah jalan raya. Hatiku berdebar, ada semacam keheningan yang menyesakkan di dada. Kegiatan perpisahan di sekolah baru saja selesai, dan meskipun acara itu penuh tawa dan ceria, ada perasaan aneh yang mengendap di dalam diri. Mungkin ini karena aku tahu, hari itu akan menjadi hari terakhir kali kita bertemu dalam keadaan seperti ini.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido