Pertengahan Dua Lima

Pertengahan Dua Lima

  • WpView
    Reads 101
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 26, 2025
[On Going] Dayita, gadis berusia dua puluh lima. Menginjak usia yang katanya dewasa, namun dia masih sibuk mencari jati dirinya. Berkelana entah kemana arahnya. Namun, orang-orang di sekitarnya seolah enggan tahu dan menutup mata. Apakah hidup harus sesuai dengan apa yang mereka mau saja? Masalah semakin komplek hadir menguasai jiwa. Entah harus bagaimana dia menjalani hidup yang penuh dengan tanda tanya. Perihal jodoh, impian, dan keluarga. Kenapa tidak siapa berpihak kepadanya? Bagaiamana Dayita dapat menemukan kebahagiaan seperti yang dirasakan manusia di luar sana? Mampukah Dayita menaklukkan dunia? NOTE : Kalau ada story yang memiliki alur cerita sama, bisa kabarin aku, ya.🌻
All Rights Reserved
#715
jomblo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • Colorful Destiny
  • Denial
  • "SUAMIKU YANG CANTIK" [END]
  • My Life With Him [End]
  • Dikejar Jodoh
  • The Crazy Wedding
  • After Met You
  • Dosen ku, Cinta ku (Ending) Proses Revisi
  • Anugrah Azizah

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines