"Langit tak Mendengar" tapi Allah Maha Pengasih  juga penyayang

"Langit tak Mendengar" tapi Allah Maha Pengasih juga penyayang

  • WpView
    Membaca 23
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Agt 10, 2025
Pernah mendengar salah satu judul lagu yang dinyanyikan oleh Peterpan yang sekarang bernama Noah yaitu " Langit tak mendengar" episode kali ini mengisahkan tentang sepasang kekasih yang bernama Satria dan Nurmala yang sedang merasakan keputusasaan saat menghadapi ramalan kuno tentang bencana yang mengancam desa mereka. Namun, berbeda dengan lirik lagu tersebut, mereka tidak menyerah pada keputusasaan. Mereka percaya bahwa meskipun "langit tak mendengar" keluhan manusia, namun Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Penyayang. Perjalanan mereka dalam mencari artefak di gua terlarang tersebut menjadi ujian iman dan persahabatan. Berbagai Rintangan fisik dan konflik batin menguji batas kemampuan mereka, namun doa, tawakal, dan kebersamaan membimbing mereka menemukan kekuatan dan hikmah di balik setiap cobaan. Kisah inspiratif kali ini penulis ambil berdasarkan kisah nyata, untuk menunjukkan bagaimana nilai-nilai keislaman dapat menjadi pedoman dalam menghadapi takdir, bahkan ketika harapan terasa sirna. selamat membaca dan semoga bermanfaat Barakallah ( Update apabila ada cerita baru lagi)
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#30
satria
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Arwa'ul Qulub (BERSAMBUNG)
  • Antara Bulan dan Bintang
  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • LangTari (Sudah Terbit)
  • Menyusun Cerita Dibawah Kanopi [On Going]
  • ANTARA DOA DAN RASA
  • LANGIT
  • FATE
  • Anggara ✔
  • RENJANA DERANA [END]

Nura Yasraa Assyairii, gadis mungil dengan tinggi hanya 145 cm, kulit kuning langsat yang lembut seperti rembulan, dan sepasang mata hitam bulat yang memancarkan pesona tak terdefinisi. Ia adalah anak kedua dari keluarga yang kaya. Tumbuh di tengah kasih sayang dan harapan besar orang tuanya. Di balik senyum cerahnya, Nura menyimpan ribuan cerita,tentang prestasi yang membanggakan, juga tentang tingkah laku nakal yang tak pernah habis diceritakan oleh guru-guru dan teman sebayanya. Bersama lima sahabat karibnya : Naomi yang telah 10 tahun bersamanya, Arisha si yang tidak bisa menangis , Zunaira yang berani, Cyra si toxic , dan Malaika yang berfikir kritis. Nura menjalani hari-hari penuh warna. Persahabatan mereka terjalin erat seperti simpul tak terurai, tumbuh dari pertemuan yang tak disengaja menjadi ikatan yang tak tergantikan. Namun, dunia mereka tiba-tiba berubah ketika satu keputusan orang tua meruntuhkan kenyamanan yang telah mereka bangun keenam gadis ini harus tinggal dan menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren yang dikenal akan kedisiplinan, aturan ketat, dan hukuman yang tegas. Dunia yang asing, dunia yang tidak mereka kehendaki. Bukan tanpa perlawanan, mereka pun mulai berulah. Segala cara mereka tempuh untuk menunjukkan ketidaksetujuan dari keusilan kecil hingga kenakalan yang membuat para pengurus pondok geleng kepala. Namun, di balik kenakalan itu, tersembunyi jeritan hati anak-anak yang masih mencari jati diri dan tempat untuk dimengerti. Pondok pesantren bukan hanya tentang hafalan dan doa, tetapi juga tentang perjuangan menghadapi diri sendiri. Apakah enam gadis ini akan mampu menerima takdir mereka? Mampukah persahabatan mereka bertahan di tengah cobaan dan aturan yang mengekang? Atau justru pondok ini akan menjadi awal dari lembaran baru dalam hidup mereka,tempat di mana mereka menemukan makna sejati dari kedewasaan, iman, dan persahabatan?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan