HANYA BERCANDA

HANYA BERCANDA

  • WpView
    Reads 46
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 22, 2025
Hosh... Hosh... Hosh... Dari sudut matanya terlihat siluet seseorang yang nampak terburu-buru sebuah lift yang berada diujung bangunan. Seorang gadis yang berada dalam lift tersebut pun dengan sigap menekan tombol agar lift tetap terbuka. Tak disangka lelaki itu tiba-tiba saja mengulurkan tangannya yang berisi bucket bunga mawar. "Aku suka kamu" "Hah?" ujar gadis itu keheranan "Udah ambil aja" paksa lelaki itu. "Apaan dah? Sakit lo?" cerca gadis tersebut dengan wajah bingungnya. "Bercanda doang elah" sahut lelaki itu asal. "Huh, bercanda kan ya? Makan tuh bercanda" sentak Amara dengan melempar bucket mawar yang masih ada ditangannya tepat mengenai wajah tampan lelaki itu. "Eh hei tunggu dulu!" "To the point aja, apa mau lo?" "Mau gue? Hmmm... Nih lo terima bucketnya. Gue serius ga bercanda. Tadi grogi aja makanya typo. Dahlah gue juga mau balik. Bye" "Heh? Terus ini gue buat apaan. Woiiii" "Ini tuh dia serius apa bercanda sih jadinya?" gumam Amara bingung. wdyt? is he serious? atau hanya bercanda?
All Rights Reserved
#749
fiksiumum
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Arsyilazka
  • BarraKilla
  • JAM 3 SORE
  • Gula - Gula
  • kiara's dream
  • How to Burn the Bad Boy (END)
  • AILAH(END)✅
  • BEFUDDLES (SELESAI)

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines