Surat untuk Kakak

Surat untuk Kakak

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 12, 2025
Ini adalah kisah yang tertuang dalam untaian kata dan kalimat. Cerita yang tak terucap, rindu yang terpisah oleh raga, serta kehidupan yang berjalan di jalur berbeda. Sejak kepergianmu, rinduku tetap sama, cintaku tak berubah, dan kasih sayang ini masih utuh. Pelukanmu tak lagi terasa, kehadiranmu dalam mimpi pun semakin pudar, atau mungkin rindu ini hanya bertepuk sebelah tangan. Apakah dari atas sana kau melihatku? Apakah rinduku terhalang langit? Ataukah ini tanda bahwa aku mulai mengikhlaskan kepergianmu, Kak? Lima tahun berlalu, tapi aku masih berbicara seolah kau ada di hadapanku. Aku mendekap diri sendiri, membayangkan kehangatan pelukanmu. Aku mengusap kepalaku, seakan tanganmu masih di sana. "Kak, aku rindu." Cerita ini bukti dari isi hati yang tak mampu kuungkapkan. Cerita yang terus berputar di benakku, kata-kata yang hanya ingin kusampaikan padamu. Selamat membaca dan jangan terlalu dipikirkan. Ini hanya tentang aku, kita, dan rindu seorang adik kepada kakaknya.
All Rights Reserved
#946
kematian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Grey Of SAKARUNA
  • Antara Aksara dan Kata
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • [END] Blind Rainbow
  • CLOSER
  •  Mengikhlaskanmu Di Ujung Senja (PROSES REVISI)
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Maaf, Aku Terlambat END✅
  • I Love You

Entah siapa yang bisa benar-benar menebak apa yang ada di pikirannya? Kadang, aku merasa kami sedekat nadi-tak terpisahkan oleh ruang atau waktu. Namun, di lain waktu, rasanya seperti tak pernah ada apa-apa di antara kami. Dia melenggang ke sana kemari, seolah aku tak lebih dari bayang-bayang yang tak terlihat. Tapi anehnya, di saat tertentu, dia menggeliat di sisiku, seperti tak akan bisa bertahan hidup tanpa kehadiranku. Hingga kini, aku masih tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Keluh kesahnya, tawa kecilnya, dan tingkah manjanya yang dulu terasa akrab kini hilang begitu saja, bagai debu yang diterbangkan angin. Dua belas tahun kebersamaan kami, mengapa rasanya bisa terhapus hanya dalam tiga tahun? Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa segalanya memang memiliki waktunya masing-masing. Bahwa perubahan ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. "Ini bukan masalah besar," gumamku berkali-kali. Namun, hati kecilku tak pernah benar-benar berhenti bertanya, mengapa? Hal yang paling membuatku kesal adalah kebiasaannya yang kini berubah menjadi teka-teki. Dia datang kepadaku, tapi hanya ketika dia butuh. Saat lapar menghampirinya, saat kesedihan melingkupinya, atau ketika kebosanan menjeratnya. Dia akan muncul tiba-tiba, menghancurkan keteraturanku, mengacak-acak ketenanganku, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Maksudnya apa? Aku benci dibuat bingung seperti ini. Aku benci bagaimana dia membuatku merasa diperlukan, hanya untuk kemudian membuatku merasa tak berarti. Namun di balik semua rasa kesalku, aku tak bisa mengingkari satu hal: aku tetap menunggunya. Dia adalah Saka, sebuah misteri yang tak pernah bisa kuselesaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines