Si Gadis Dan Seribu Luka

Si Gadis Dan Seribu Luka

  • WpView
    OKUNANLAR 7
  • WpVote
    Oylar 0
  • WpPart
    Bölümler 3
WpMetadataReadDevam ediyor
WpMetadataNoticeSon yayınlanan Çar, Şub 12, 2025
Dia Adalah Alya Mahardika yang selalu tampak kuat di mata orang lain. Dengan senyum yang ia paksakan setiap hari, tidak ada yang tahu bahwa di balik matanya yang berbinar, tersimpan luka yang sulit terobati. Kehidupan Alya tak pernah mudah dengan kondisi keluarganya berantakan, persahabatan yang dikhianati, dan cinta yang hanya menyisakan kepedihan. Namun, di tengah segala kepedihan itu, Alya bertemu dengan seseorang yang perlahan mengajarkannya bahwa tidak semua luka harus disembunyikan. Bahwa terkadang, menerima dan berdamai dengan masa lalu adalah cara terbaik untuk melangkah maju. Apakah Alya mampu melewati semua ini? Ataukah luka-luka itu justru akan menenggelamkannya semakin dalam?
Tüm hakları saklıdır
En büyük hikaye anlatıcılığı topluluğuna katılınKişiselleştirilmiş hikaye önerileri alın, favorilerinizi kütüphanenize kaydedin ve topluluğunuzu büyütmek için yorum yapın ve oy verin.
Illustration

Ayrıca sevebilecekleriniz

  • ALYA
  • Hingga Takdir Menguatkanku
  • ( not ) Figuran
  • Namaku selalu ada di bibirnya , Tapi Aku Tidak Pernah ada di Hatimu [ SELESAI ]
  • Silence In Their Minds
  • Waktu?
  • To Heal
  • Rumah dalam Dekapan
  • Langit Yang Tak Lagi sama
  • Aletheia Selaksa
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

Daha fazla bilgi
WpActionLinkİçerik Rehberi