The Intersection of Sunny Shower

The Intersection of Sunny Shower

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 19, 2025
Aku percaya bahwa apa hujan terik dapat menyebabkan sakit. Karena begitulah Bunda berpesan pada diriku sejak kecil. Sehingga Aku bergegas untuk pulang ke rumah saat hujan terik itu mulai turun. Saat akan menyebrang di persimpangan jalan, Aku hampir tertabrak sepeda yang dikendarai oleh laki-laki bertopi hitam. Melihat pengendara sepeda berwarna biru yang terjatuh dengan sepedanya, Aku bergegas menuju kehadapan laki-laki itu. "A...aku minta maaf, kau tidak apa-apa?" Cover ib: Pinterest
All Rights Reserved
#14
fatherless
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Umbrella Life [END]
  • Rintik Hujan
  • CATUR [END]
  • Kita Sembuh Bareng?
  • SOLITUDES
  • Hujan di Hari itu
  • Oktober kelabu
  • Full Of Scratches
  • Perkara

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines