Pagi itu, SMA high School internasional seharusnya seperti biasa-bising dengan suara obrolan siswa, langkah tergesa-gesa mengejar bel pertama, dan suara pintu loker yang dibanting. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat udara terasa lebih berat, seolah seluruh sekolah menahan napas.
Lalu, jeritan itu pecah.
Di depan ruang kelas 3A, seorang siswi tergeletak. Rambut panjangnya berantakan di lantai yang mengilap, seragam putihnya kini dipenuhi noda merah yang mengering. Matanya terbuka, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang dingin. Tangannya masih menggenggam sebuah pena yang patah, ujungnya tajam seperti pisau.
Para siswa yang baru datang membeku di tempat. Beberapa menutup mulut, menahan mual. Yang lain mundur, menjauh, seakan kematian bisa menular hanya dengan melihatnya.
Tak butuh waktu lama sebelum suara langkah panik menggema di koridor. Guru-guru datang, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Seseorang menangis. Seseorang berlari mencari bantuan. Dan di tengah semua kekacauan itu, hanya satu hal yang pasti:
*Pembunuhnya ada di antara mereka.*
Seseorang di sekolah ini menyimpan rahasia kelam. Seseorang baru saja membunuh. Dan mungkin, ini baru permulaan.
Todos los derechos reservados