Puzzle Kematian

Puzzle Kematian

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 13, 2025
WpInfo
Fiction
Mystery
Pagi itu, SMA high School internasional seharusnya seperti biasa-bising dengan suara obrolan siswa, langkah tergesa-gesa mengejar bel pertama, dan suara pintu loker yang dibanting. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat udara terasa lebih berat, seolah seluruh sekolah menahan napas. Lalu, jeritan itu pecah. Di depan ruang kelas 3A, seorang siswi tergeletak. Rambut panjangnya berantakan di lantai yang mengilap, seragam putihnya kini dipenuhi noda merah yang mengering. Matanya terbuka, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang dingin. Tangannya masih menggenggam sebuah pena yang patah, ujungnya tajam seperti pisau. Para siswa yang baru datang membeku di tempat. Beberapa menutup mulut, menahan mual. Yang lain mundur, menjauh, seakan kematian bisa menular hanya dengan melihatnya. Tak butuh waktu lama sebelum suara langkah panik menggema di koridor. Guru-guru datang, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Seseorang menangis. Seseorang berlari mencari bantuan. Dan di tengah semua kekacauan itu, hanya satu hal yang pasti: *Pembunuhnya ada di antara mereka.* Seseorang di sekolah ini menyimpan rahasia kelam. Seseorang baru saja membunuh. Dan mungkin, ini baru permulaan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DOSA DIAM
  • Memento Mori:Terror In Class X³ [✓]
  • Class 9ABC vs 9DEF ( S1)
  • Just For a Moment (REVISI)
  • (ADC) Antariksa's Detective Club 1.0 -New Member?「Completed √」
  • DEXTER
  • R.M.D.K.
  • CERITA HOROR SEKOLAH
  • MURDERER IN THE SCHOOL SEASON 2 [COMPLETED]
DOSA DIAM

Di balik pagar tinggi dan lantunan ayat yang terus mengalun, ada tempat yang tampak damai. Setiap hari diatur oleh jadwal yang sama, suara azan yang memanggil, dan wajah-wajah yang seolah tenang. Tapi ketenangan tak selalu berarti aman. Beberapa datang ke tempat itu untuk mencari ilmu, sebagian untuk mencari arah. Namun ada yang datang membawa beban yang tak kasat mata, beban yang tak bisa ditinggal di luar gerbang. Di dalam kamar-kamar sempit dan lorong-lorong yang tak pernah benar-benar sepi, sesuatu mengintai. Bukan sosok. Tapi perasaan. Tekanan. Dendam. Dan rasa bersalah yang tak pernah padam. Apa yang terjadi di masa lalu seolah terkubur rapi. Tidak ada yang berani membicarakannya, apalagi menanyakan. Tapi diam tidak pernah benar-benar memadamkan kebenaran. Ia hanya menundanya... sampai waktunya tiba untuk muncul dalam bentuk yang tak terduga. Dan ketika suara-suara samar mulai terdengar saat malam tiba, ketika tatapan menjadi dingin dan doa-doa terasa hampa-seseorang tahu bahwa tempat itu tidak lagi menjadi tempat berlindung. Tapi medan perang yang sunyinya bisa membunuh siapa saja yang memilih tetap diam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines