Permainan Tanpa Akhir

Permainan Tanpa Akhir

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadMatureOngoing56m
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 12, 2025
Di balik tembok sekolah, ada rahasia yang tak pernah diceritakan. Vera, gadis sempurna di mata semua orang-cantik, pintar, dan memesona. Namun, di balik senyum manisnya, ada ambisi tersembunyi. Alex, pacar yang tampaknya setia, tapi diam-diam memainkan permainan paling licik. Luna, gadis tomboy yang selalu percaya pada cinta, kini harus menghadapi pengkhianatan. Dan Delvano-cogan misterius yang pernah menjadi cinta lama Vera, kini kembali dengan dendam di matanya. Ketika cinta berubah menjadi permainan, ketika kesetiaan hanyalah ilusi, dan ketika dendam menggantikan rasa sayang... siapa yang akan menang? Dan siapa yang akan hancur? Di dunia di mana perasaan bisa dimanipulasi, hanya mereka yang tahu cara bermain yang akan bertahan. Karena dalam cinta... tidak semua orang bisa menang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Once A Time
  • LOVESICK
  • Selagi Bernama Kita
  • Julia's : I Thought I Could Fix Him (Og)
  • AMNESIA
  • Triple F
  • L'amour Adolescent : Sinar's Standpunt
  • Antara Luka & Cinta Baru
  • MILLION DIFFERENT WORLDS
  • Unmasking Caspian: The Love He Never Knew He Needed

Rasanya menyakitkan kala angin berhembus menerpa tubuhnya. Rambut panjangnya berkibar dan ia memejamkan mata. Menghirup napas dengan rakus seakan paru-parunya menyempit. Matanya kembali terbuka, menatap lurus langit hitam di atasnya. Tidak ada bintang. Bahkan bulan enggan muncul. Yang ada hanya gumpalan awan yang sesekali diterangi nyala kilat. Ia menelan ludah. Tangannya yang mencengkeram pagar besi sebatas pinggang di belakangnya perlahan melemah. Ia siap sekarang. Sangat siap untuk apapun yang menghantam tubuhnya di bawah sana nanti. Kedua bola matanya memandang ke bawah. Ramai oleh lampu-lampu mobil yang bergerak, juga terangnya gedung-gedung yang lebih pendek di sekitarnya. Tangannya terlepas, terentang lebar menyambut deru angin yang hampir merusak gendang telinganya. Ia memejamkan mata. Tubuhnya terayun ke depan...

More details
WpActionLinkContent Guidelines