Tanpa Nama

Tanpa Nama

  • WpView
    Reads 79
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 4, 2025
Beberapa nama hanya singgah, mengetuk sebentar, lalu pergi tanpa jejak. Tapi ada satu nama yang menetap, berdiam di sela-sela waktu, enggan pudar meski sudah coba dilupakan. Ini bukan tentang cinta yang utuh, bukan juga tentang perpisahan yang selesai. Ini tentang percakapan yang pernah mengalir, kini membisu di ujung senja. Tentang tatapan yang dulu saling mencari, kini hanya saling melewati, seperti angin yang sekadar menyapa. Sebagian kisah ini nyata. Pernah hidup dalam ingatanku, pernah tertulis di sudut-sudut yang tak bisa kusebut rumah. Tapi tidak semuanya. Ada yang kusimpan, ada yang kubiarkan kabur bersama waktu. Aku menulis ini bukan untuk mengenang. Tapi juga bukan untuk melupakan. Hanya untuk membiarkan namanya tetap ada, di antara kata-kata yang tak ingin beranjak.
All Rights Reserved
#3
romantisgelap
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • When his name is
  • BUNGA KEMBALI
  • Oh My Captain
  • JANJI YANG TAK SEMPAT DITEPATI
  • Mencintaimu Dari Ujung Senja
  • The Bleeding Lady [completed]
  • DESA PUNYA CERITA

sinopsis: "Aku milikmu, ingat itu." Aku bertemu dengannya-dan saat menatap matanya, semua luka lama terasa seperti baru kemarin. Kami bukan orang asing. Kami adalah dua jiwa yang pernah saling memiliki, lalu membuang ribuan kenangan dan mimpi seakan semuanya tak berarti. His name is Benedictus. "Dia adalah masa laluku... dan juga yang terakhir bagiku," ujar Angelz saat bicara pada Chris-teman yang selama ini diam-diam mencintainya dari kejauhan. Chris tahu, cintanya mungkin tak akan pernah terbalas. Bukan karena dia tak cukup baik, tapi karena bayangan masa lalu Angelz terlalu kuat untuk dilupakan. Lalu, ketika masa lalu dan masa kini bertabrakan, akankah Angelz tetap memilih luka yang familiar... atau cinta yang diam-diam tumbuh dengan tulus? ________________________________________ prolog: Aku lupa kapan terakhir kali memeluknya-mungkin saat langit masih tahu cara bersinar di mataku, sebelum semua berubah jadi abu-abu. Dia berdiri di depan ku sekarang, seperti mimpi buruk yang kembali mencari tempat tinggal. Tapi bukan karena aku takut... aku hanya belum siap mengingat betapa dalamnya luka yang pernah kami ciptakan bersama. Namanya Benedictus. Dan sekali lagi, dunia menuntunku ke arah yang selama ini ku coba lupakan. "Angelz," suaranya tak berubah. Aku menunduk. Karena sekuat apa pun aku menyangkal... sebagian dari diriku masih miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines