Bagaimana Jika Aku Pergi ?

Bagaimana Jika Aku Pergi ?

  • WpView
    Reads 113
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 15, 2025
Jika semua bersandar kepadaku, lantas aku bersandar kemana ? Lelah rasanya menjadi seseorang yang yang harus mengalah karena keadaan, harus mengerti dengan keadaan, berjuang demi memperbaiki keadaan Rasanya kebahagaiaan ku bukanlah milikku sepenuhnya, aku harus membayar dengan membahagiakan orang lain untuk mendapatkan apa yang aku mau Mengorbankan mimpiku demi orang lain ? Itu hal yang biasa bagiku Setiap hari aku melakukan hal itu dan aku merasa biasa saja dan menganggap itu sebagai tanggung jawab Sampai ada di titik dimana aku ingin menginginkan sesuatu, aku menyadari segala perjuangan sia-sia, lagi dan lagi aku harus mengalah karena ditekan keadaan Aku harus memilih antara diriku atau keluargaku, mana yang harus aku korbankan Aku lelah, aku marah inginku cerita namun tiada satupun yang paham Semua hal yang menurutku menjadi kebahagiaanku seakan sirna Aku dilahirkan untuk membahagiakan orang lain tanpa memperdulikan diri sendiri Hingga satu pertanyaan muncul di kepalaku... "Bagaimana. Jika Aku Pergi ?"
All Rights Reserved
#96
anakpertama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Kotak Harapan dan Kisahnya || JKT48
  • RAVENDRA
  • don't leave daddy CH2 (END)
  • FAMILY? [END]
  • In Another Life [MANDIRA FAMILY SEASON 2]
  • M E M O R Y  (On Going)
  • Atma Niscala
  • Hilang
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines