Adiós amigo

Adiós amigo

  • WpView
    Reads 313
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 28, 2026
WpInfo
Fiction
Mystery
Murder
Horror
Psychological
Seseorang telah membuka kembali Cuaderno Mortal, buku kematian yang telah memakan banyak korban tujuh tahun silam. Halaman terakhir yang awalnya kosong, kini terisi oleh delapan nama siswa. Tujuh di antaranya adalah penghuni asrama 77. Akankah kejadian tujuh tahun silam terulang kembali? Adiós amigo, Karya pertama, jadi mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan. Harap bijak dalam membaca.
All Rights Reserved
#252
psikopat
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • Secret | Treasure ✓
  • WAKE ME UP[Battle With The Devil] SERIES I : LOST CHILD
  • Saranjana [END]
  • Month of Death  [24679]
  • Musim Kering yang Sunyi
  • Buried Truth
  • THE SECRET OF RELYAN
  • MIXTURE! (About Secrets)

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines