HARAPAN YANG SALAH    ( REVISI )

HARAPAN YANG SALAH ( REVISI )

  • WpView
    Reads 10,065
  • WpVote
    Votes 387
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadComplete Tue, Apr 8, 2025
Maya, seorang Siswi kelas 12 yang, diam-diam menyukai Januar selama 2 tahun. ketua kelasnya yang ramah dan selalu peduli pada teman - temannya. Setiap kali Januar membantunya dalam tugas atau sekadar menanyakan kabar, Maya merasa ada sesuatu yang spesial di antara mereka. Sikap hangat Januar membuat Maya percaya bahwa perasaan itu mungkin berbalas. Namun, perlahan Maya mulai menyadari bahwa bukan hanya dia yang merasakan hal yang sama. Banyak teman sekelasnya juga terbuai oleh perhatian Januar, membuatnya ragu apakah perasaan Januar benar - benar untuknya atau sekadar sikap alami pria itu. Hingga suatu hari, kenyataan menghantam Maya. Januar ternyata menyimpan perasaan untuk Angel, seorang teman seangkatannya. Berbeda dari dirinya yang selalu berharap, Angel tampak santai menghadapi perhatian Januar. Maya harus menghadapi kenyataan bahwa perasaannya hanyalah salah paham yang ia ciptakan sendiri. Mampukah Maya move on dari harapan yang salah? Atau perasaan itu akan terus menghantuinya?
All Rights Reserved
#518
maya
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Seperti Sedang Bermimpi [ON GOING]
  • My First Love [END]
  • Diary Ayra: Cerita Cinta SMA
  • Tangled Hearts
  • Nissa & Nathan (COMPLETED)
  • Putih & Abu-abu
  • Langit dan Cahayanya
  • JANJI YANG TAK SEMPAT DITEPATI

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines