Desa yang salah

Desa yang salah

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 24, 2025
The Ascension tersesat di desa misterius yang sunyi dan penuh keanehan. Setelah berjuang keluar, mereka sadar waktu berlalu berbeda. Saat merasa aman, Axel berbisik: "Kita nggak pernah benar-benar keluar dari sana." (ide dari aku dan alurnya juga dari aku. Di koreksi oleh chat GPT supaya lebih baku)
All Rights Reserved
#519
together
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tumbal Mata
  • Midnight Rules (HARQEEL AU)
  • Rahasia di Balik Bayangan  [ Tamat]
  • Naungan Akhir
  • my world is a magical world
  • SENDIRIAN.
  • LOST SIGNAL
  • HARQEEL
  • Desa Terkutuk|| SUDAH TERBIT

Aku selamat dari kecelakaan itu-atau setidaknya, begitulah yang kupikirkan. Bertahan hidup ternyata bukan akhir dari penderitaan, melainkan pintu menuju sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Tersesat di hutan lebat yang seolah tak memiliki ujung, aku segera menyadari bahwa ancaman terbesar bukanlah binatang buas. Di tengah kegelapan, berdirilah sebuah desa terpencil bernama Soca, dihuni oleh penduduk dengan tatapan kosong dan perilaku yang membuat darahku membeku. Mereka menderita penyakit aneh: penglihatan mereka telah hilang, bukan secara fisik, tetapi seolah direnggut oleh sesuatu yang lebih dalam. Penduduk Soca hidup dalam pencarian obsesif terhadap apa yang mereka sebut sebagai "Cahaya." Sebuah keyakinan bahwa hanya dengan menemukan Cahaya itu, mereka dapat kembali "melihat"-mengakhiri kegelapan yang menyelimuti tubuh dan pikiran mereka. Pencarian itu tak mengenal batas moral, tak mengenal rasa kasihan. Ketika mereka akhirnya bertemu dengan kami-para penumpang yang selamat dari kecelakaan-segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Dua keinginan bertabrakan: penduduk desa yang terjerat penderitaan ingin merebut kembali Cahaya mereka, sementara kami hanya ingin pulang. Kembali ke keluarga. Bukan menjadi bagian dari ritual gelap desa Soca. Di antara hutan, trauma, dan tatapan mereka yang tak bisa melihat namun selalu tahu ke mana harus memandang, satu pertanyaan terus menghantuiku: Siapa sebenarnya yang tersesat-kami, atau mereka?

More details
WpActionLinkContent Guidelines