
Kara tumbuh dalam keluarga yang tak pernah memberinya ruang untuk bernapas. Ibunya, sosok keras kepala dan ambisius, menjadikan prestasi akademik Kara sebagai satu-satunya harapan keluar dari kemiskinan dan utang yang diwariskan mendiang ayahnya. Hidup Kara diwarnai dengan kepindahan dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain, hidup dalam ketakutan karena kejaran rentenir, dan tidak pernah benar-benar tahu apa rasanya "pulang." Di tengah hidup yang penuh tekanan itu, Kara bertemu Dipta-seorang cowok santai yang gemar bermain basket dan dikenal karena senyum ramahnya yang selalu membuat orang merasa nyaman. Dipta juga tumbuh tanpa ayah, namun tidak hidup dalam tuntutan. Ibunya mengajarkan bahwa hidup seharusnya dijalani dengan syukur dan kasih, bukan dengan beban dan ketakutan. Pertemuan Kara dan Dipta berawal dari ketidaksengajaan, namun rasa ingin tahu Dipta terhadap gadis pendiam itu tak bisa ia abaikan begitu saja. Meski Kara awalnya enggan membuka diri, perlahan kehadiran Dipta menjadi titik terang di tengah hidupnya yang kelam. Dipta menunjukkan bahwa tidak semua orang mendekat untuk menyakitinya, dan bahwa dunia di luar dinding pertahanannya tidak seburuk yang selama ini ia kira. Namun ketika Kara mulai percaya bahwa ia pantas bahagia, hidup kembali mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak pernah datang tanpa harga. Ibunya menolak hubungan mereka karena takut Kara akan lalai dalam akademik. Di sisi lain, Dipta menghadapi dilema tersendiri saat menyadari bahwa kedekatannya dengan Kara tidak sesederhana pertemanan. Kisah ini menyoroti perjalanan dua anak muda yang sama-sama kehilangan ayah, tetapi tumbuh dalam dunia yang berbeda. Di tengah luka keluarga, kemiskinan, dan tuntutan hidup, mereka menemukan makna tentang penerimaan, pengampunan, dan cinta.(CC) Attrib. NonComm. ShareAlike
1 part