Kata terakhir yang aku tulis untuknya kala itu "Sudah tugasku menjadi sembuh. Kusulam senyum, menaburkan yang pilu. Demi menjadi aman bagi yang butuh. Dengan pergantianku dengan Dia. Dia yang nyata dan Aku yang di cermin. Yang lebih pandai tersenyum, tertawa, dan meleburkan kenangan bersama tetesan air mata. Pernah ku rayu Tuhanku untuk membawamu kembali, namun itu hanya sekedar uji nyali. Selamat karena memberi perayaan patah hati tanpa kendali."
Dan setelah aku menulis itu di kertas yang setengah basah karena air mataku, aku tersentak, sesak, terisak dengan kenangan yang pernah kami lewati. Catatan mimpi yang aku tulis untuk Dita hilang bersama kepergiannya yang sekaligus membawa diriku sendiri.