Dalam hidup, ada orang-orang yang datang dan pergi seperti lagu yang diputar sekali lalu terlupakan. Ada juga yang bertahan lebih lama, mengisi ruang kosong dengan melodi yang tanpa sadar kamu hafal di luar kepala.
Orpheus, namanya diambil dari mitologi Yunani, bukan seseorang yang suka jadi pusat perhatian. Dia bukan vokalis yang berdiri di tengah panggung dengan suara yang menggema, bukan juga gitaris yang mencuri sorotan dengan solo panjang penuh emosi. Dia cuma bassist-orang yang berdiri sedikit lebih ke belakang, memainkan nada-nada yang mungkin nggak selalu terdengar jelas, tapi tanpa dia, musik nggak akan terasa lengkap.
Nadine awalnya cuma ingin belajar bass. Bukan karena ingin jadi musisi atau punya mimpi manggung di depan banyak orang, tapi lebih karena... yah, siapa yang tahu? Mungkin karena iseng, mungkin karena ingin mencoba sesuatu yang baru, atau mungkin karena-tanpa dia sadari-dia tertarik pada seseorang yang berdiri di tengah ruangan latihan dengan bass di tangan dan senyum tipis di wajahnya.
Di kampus yang semakin hari terasa lebih sempit, di antara dinding studio latihan yang penuh coretan, dan di bawah lampu redup panggung-panggung kecil, ada cerita yang pelan-pelan terbentuk. Cerita tentang sebuah band, tentang lagu-lagu yang mungkin nggak akan pernah masuk chart, tentang orang-orang yang berusaha menemukan tempat mereka di dunia yang terus berjalan.
Dan di antara semua itu, ada Nadine dan Orpheus-dua orang yang, entah bagaimana, nadanya mulai selaras satu sama lain.
Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya.
Namun, malam itu mengubah segalanya.
Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan.
Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah.
"Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis.
"Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh.
Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.