The Poet's Heart

The Poet's Heart

  • WpView
    Membaca 70
  • WpVote
    Vote 15
  • WpPart
    Bab 6
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Feb 19, 2025
Di tengah keramaian kota, Cakra Aditya berdiri tegak, menatap ke depan dengan mata teduh yang berbuat hati bergetar, kulit manisnya bersinar di bawah sinar matahari, dan senyum manisnya membuat semua orang terpesona. Di sebuah kafe kecil di pusat kota, Adara Ayu duduk sendirian, menikmati secangkir kopi hangat. Dia sedang membaca sebuah buku puisi, dan matahari yang masuk melalui jendela kafe membuatnya erasa nyaman. Tiba-tiba, pintu kafe terbuka, dan seorang lelaki tampan masuk. Adara Ayu tidak bisa tidak memandangnya, karena kehadirannya begitu mencolok. Lelaki itu memiliki mata teduh, alis tebal, dan senyum manis yang membuat Adara Ayu merasa terpesona. "Maaf, boleh gua duduk disini?" tanya lelaki itu, menunjuk ke kursi kosong di sebelah Adara Ayu. Aara Ayu terkejut, tapi dia cepat-cepat mengangguk. "Boleh,duduk aja."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • RAINKA - SUDAH TERBIT
  • Ranaya
  • Alenara; Living in a Fairy Tale
  • Dunia Aray
  • Pieces of Light
  • Allya Theo Perjodohan? [On Going♡]
  • Hujan Di Langit November
  • Arafah
  • LUGU

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan