Langit Mati

Langit Mati

  • WpView
    LECTURAS 17
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, feb 17, 2025
Key duduk di atas batu besar, menatap nanar ke depan. Ia menaruh harapan di sana, pada batu yang bisu, berharap luka itu bisa terkubur bersama sunyi yang mengitarinya. Ia ingin pergi tanpa beban, ingin pulang tanpa membawa pedih yang sama. Malam begitu sepi. Hanya cahaya bulan yang temaram dan suara jangkrik yang mengalun pelan. Key memeluk dirinya sendiri, menahan dingin yang merayap hingga ke tulang. Sesekali ia tersendu, menengadah ke atas. Langit itu... begitu gelap, kehilangan bintangnya. Tak ada kerlip yang menemani, tak ada janji yang menyala di sana. Warna malam terasa pudar, menyatu dalam kesepian yang begitu pekat. "Hampa sekali..." gumamnya lirih. Seperti hatinya yang kehilangan arah. Langit kosong, seperti harapannya yang seakan menghilang tanpa jejak.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • PERIHAL MENGIKHLASKAN
  • Important Figuran (END)
  • RINDU YANG TERSESAT
  • Diary Zofanya
  • Semesta Ingin Aku Bagaimana (?)
  • Untuk Oreo dan Kamu [OG]
  • Rain Drops ( On Going )
  • Happy [ Sudah Terbit ]
  • ALEAGAS [END]
  •  ANATHA

Tak ada hal yang harus Carla tolak jika dia datang kembali. Walau sudah berulang kali perjuangannya tidak dihargai. Jika dia menolak. Mungkin itu adalah hal paling bodoh selama 3 tahun ini dia perjuangkan dan menunggu. Laki-laki itu datang tanpa keberanian. Hanya dengan rangkaian bunga sebagai sosok dirinya dan selembar kertas sebagai mulutnya. Betapa bahagia Carla. Tuhan baik kepadanya setelah kenyataan mengikhlaskan kedua orangtuanya untuk pergi selama-lamanya. Laki-laki yang dia cintai selama ini, kini selalu bersamanya. Menggantikan sosok kedua orangtua. Walau memang tak sepenuhnya. Namun jika dia mendapat pilihan. Pertama, kehilangan kedua orangtua tetapi apa yang telah ditunggu datang. Kedua, orang yang telah ditunggu-tunggu tidak pernah datang, namun sosok kedua orangtua ada selalu untuknya. Tanpa berpikir dua kali, dia akan memilih yang pertama. Namun apa boleh buat, jika takdir berkata lain. Ketika dia harus menerima kenyataan kedua. Semua itu terjadi. Carla memutuskan untuk hidup sebatang kara. Ketimbang dia ikut dengan abang dan adiknya. Dia lebih senang di Indonesia walau sendiri. Karena hanya rumah yang ditempatinya kini pernah merasakan kekeluargaan. Takdir berjalan lagi lebih cepat. Tuhan mengambil semua miliknya. Orang yang dia sayang dan begitupun dengan ingatannya. Semua begitu cepat berubah hanya dalam waktu beberapa bulan. Semua kehidupannya berubah. Kini dia tinggal bersama keluarga kecilnya. Selalu ada kebahagiaan dibalik kesedihan yang mendalam. Dengan hadirnya seseorang yang begitu cepat mencintai Carla dengan sepenuh tanpa dia sadari. Namun marahnya tak bisa dia kendali saat tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi kurang lebih 1 tahunn lalu. Betapa pahit rasanya mengetahui apa yang terjadi. Kemarahan itu Carla lampiaskan kepada semuanya. Keluarga keciln dan orang yang sepenuh hati membantunya untuk sembuh dan berusaha membahagiakannya. Sampai akhirnya kesadaran dia rasakan. Setelah kehilangan itu terjadi. Namun Tuhan ................

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido