Bagaimana Dengan Hari Esok?

Bagaimana Dengan Hari Esok?

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 3, 2025
Namaku Aurelia Mahira. Aku hanyalah seorang perempuan biasa, yang tak pernah menyangka hidupku akan dipenuhi warna oleh seseorang seaneh dan seindah dia. Dia adalah Revan Asvara. Sosok yang mampu membuatku tertawa bahkan ketika hujan turun, seolah derasnya langit tak lagi menenggelamkan kesedihan. Dia yang menjadikan senja lebih dari sekadar perpisahan matahari, dan langit malam seakan tak pernah lagi terasa sepi. Dia adalah seseorang yang selalu mempertanyakan tentang hari esok, Apa terjadi dengan hari esok? Apakah dia masih ada di dunia ini? Pertanyaan yang selalu di pertanyaan. Dan di sinilah aku... mencoba merangkai kisah kami. Kisah tentang tawa di bawah hujan, senja yang enggan pudar, dan malam yang penuh kerahasiaan. Karena bersamanya, aku belajar satu hal: Bahwa esok, entah akan datang atau tidak, tetap layak untuk diperjuangkan.
All Rights Reserved
#108
typo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kemana Arah Pulang?
  • Ana Uhibbuka Fillah ( TAMAT  )
  • Lovasya
  • Jejak Dalam Diam [SELESAI✓]
  • Takdir yang Menyatu
  • Vìřģøųñđ || End✔
  • Reborn In a Hug
  • Sekolah di Balik Kabut
  • Heartbeats: Di Antara Dua Dunia

Insiden yang merenggut kedua orang tua mereka telah mengubah segalanya. Rumah yang dulu penuh dengan tawa dan kebahagiaan kini terasa hampa dan penuh kesedihan. Setiap sudut rumah yang mereka tinggali kini penuh dengan kenangan akan masa lalu, dan rasa kehilangan yang tak terhingga. Lima bersaudara itu terjebak dalam arungan luka tak kasat mata. Terkunci dalam labirin ketakutan yang tanpa sadar telah mengikis tali persaudaraan mereka. Maraga, si sulung yang harus merelakan masa kuliahnya dan beralih menjadi tulang punggung keluarga. Reshaya, sang kakak kedua yang enggan berbagi duka. Hendara, si anak tengah yang selalu menangis di sepertiga malam hanya karena merindukan Bunda. Dan si kembar, Juandika dan Anandika yang sama-sama memendam sesak tak berkesudahan. "Aku kangen rumah yang dulu." "Kita berdamai sama-sama ya? Jangan ada lagi yang di pendam." Written by Kala Rune Desember, 2024

More details
WpActionLinkContent Guidelines