Antara Takdir

Antara Takdir

  • WpView
    Reads 1,659
  • WpVote
    Votes 1,211
  • WpPart
    Parts 60
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 20, 2025
Zaidan: Seorang siswa SMA yang cerdas dan aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Ia populer di sekolah, namun memiliki sifat tengil yang seringkali membuatnya bermasalah. Ia cenderung impulsif dan terkadang kurang peka terhadap perasaan orang lain. Di balik sifat tengilnya, Zaidan sebenarnya memiliki hati yang baik dan peduli, meskipun ia seringkali kesulitan untuk mengekspresikannya dengan cara yang tepat. Ia seperti matahari, terang dan mencolok, namun juga bisa menyilaukan. Nadia: Seorang siswi SMA yang introvert dan pendiam. Ia lebih suka menghabiskan waktu sendirian membaca buku daripada berinteraksi dengan orang lain. Ia memiliki segelintir teman dekat dan merasa kesulitan untuk berbaur dengan teman-teman sekelasnya. Nadia memiliki kecerdasan dan kedalaman emosi yang tinggi, namun ia cenderung menyembunyikan perasaannya. Ia seperti bulan, tenang dan misterius, memancarkan cahaya yang lembut namun kuat.
All Rights Reserved
#74
ceritasedih
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Not Me & Not Mine
  • Introvert Merindu
  • Menunggu Senja Kembali
  • Infinity love
  • MAS SANTRI
  • Kita Di Antara Waktu
  • First Love
  • Namanya Intan (TAMAT)
  • Bukan Cinta Pertama

Tak ada kesalahan tanpa adanya sebuah perbuatan, begitu pula dengan kisah Zara dan Rafif-dua hati yang, entah bagaimana caranya, selalu kembali bertaut meski diwarnai begitu banyak perbedaan. Zara, seorang perempuan yang selalu berusaha memahami, menerima Rafif apa adanya, termasuk sifat kekanak-kanakannya yang sering kali membuatnya menghela napas panjang. Setiap kali dia menunjukkan sisi inner child-nya di saat-saat yang tak terduga, Zara tak bisa menahan diri untuk menyipitkan mata, menatapnya dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya. "Kamu selalu bilang bisa menerima aku apa adanya, tapi tiap aku bersikap begini, ekspresimu langsung berubah," Rafif bersedekap, bibirnya mengerucut seakan protes. Zara mendesah pelan, menyilangkan tangan di dada. "Bagaimana tidak? Kadang kamu bisa bertingkah seperti anak kecil, bahkan di tempat umum," ucapnya, setengah gemas setengah tak habis pikir. Cinta mereka bukanlah kisah yang selalu berjalan mulus. Ia tumbuh dengan caranya sendiri-kadang seperti bunga liar yang mekar tanpa aturan, kadang seperti lukisan abstrak yang penuh warna namun sulit untuk didefinisikan. "Ambil sepatumu dan pakai, Rafif. Di tempat seperti ini pun kamu tetap saja menyusahkan," ujar Zara, matanya melirik ke arah kaki Rafif yang masih telanjang di lantai dingin. Rafif terkekeh kecil, tidak tergesa-gesa mengambil sepatunya. "Aku cuma menunggu kamu dulu sebelum pakai sepatu," katanya ringan. Zara menghela napas lagi. "Aku pergi sebentar beli makanan, bukan pergi selamanya," ia menyodorkan sesuatu pada Rafif. Sekejap mata Rafif berbinar begitu melihat apa yang ada di tangannya. "Wah! Es krim kesukaan kita! Aku mauu~" serunya penuh semangat, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah. IG/aqieff_bhlwn Tiktok/elsyaqief

More details
WpActionLinkContent Guidelines