Tanda Tanya

Tanda Tanya

  • WpView
    Reads 7,214
  • WpVote
    Votes 726
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 1, 2026
"Sepuluh mahasiswa hilang ketika demonstasi tahun 1998. Bila mereka mati, katakanlah lokasinya, agar kami para ibu bisa berdoa di larung buah hati kami terakhir kalinya. Di mana anak-anak kami?" Pertanyaan tersebut menghantuiku seumur hidup. Untuk membebaskan hantu-hantu itu, aku pun berseru. "Saya akan menemukan sepuluh mahasiswa yang hilang tahun 1998! Biar saya menanggung dosa yang telah ayah saya perbuat." Sudah cukup ayahku menunduk semasa mudanya, demi anaknya yang kini bisa mengangkat kepala tinggi-tinggi. Aku tidak akan membiarkannya kembali menunduk, kecuali dihadapanku. © Brain Washer 2025
All Rights Reserved
#101
teen
WpChevronRight
Series

Reformasi Tanda Baca

  • Tanda Seru
    53 parts
  • Kurung
    30 parts
  • 3 parts
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kemana Arah Pulang?
  • The Last Puzzle
  • Homebound | 00L Nct Dream
  • •Pantai Terlarang Rahasia Umum•
  • REZZA
  • Saranjana [END]
  • THE SECRET OF RELYAN
  • DEXTER
  • Guess Who's The Psycho [S1] - SUDAH TERBIT
  • Eliinaa

Insiden yang merenggut kedua orang tua mereka telah mengubah segalanya. Rumah yang dulu penuh dengan tawa dan kebahagiaan kini terasa hampa dan penuh kesedihan. Setiap sudut rumah yang mereka tinggali kini penuh dengan kenangan akan masa lalu, dan rasa kehilangan yang tak terhingga. Lima bersaudara itu terjebak dalam arungan luka tak kasat mata. Terkunci dalam labirin ketakutan yang tanpa sadar telah mengikis tali persaudaraan mereka. Maraga, si sulung yang harus merelakan masa kuliahnya dan beralih menjadi tulang punggung keluarga. Reshaya, sang kakak kedua yang enggan berbagi duka. Hendara, si anak tengah yang selalu menangis di sepertiga malam hanya karena merindukan Bunda. Dan si kembar, Juandika dan Anandika yang sama-sama memendam sesak tak berkesudahan. "Aku kangen rumah yang dulu." "Kita berdamai sama-sama ya? Jangan ada lagi yang di pendam." Written by Kala Rune Desember, 2024

More details
WpActionLinkContent Guidelines