FATE IN CHAINS
a Sequel of "Senja di Balik Hujan"
Dua tahun berlalu sejak tragedi yang menjerat mereka, namun Alden dan Asyilla masih terperangkap dalam lingkaran yang sama-hubungan yang penuh gairah, ketergantungan, dan obsesi yang nyaris tak masuk akal. Alden, kini seorang mahasiswa teknik yang tampak tenang dan rasional, sebenarnya tak pernah benar-benar bisa melepaskan diri dari Asyilla. Setiap langkah gadis itu, setiap jejak keberadaannya, selalu dalam pantauannya. Ia bukan hanya mencintai Asyilla-ia membutuhkannya.
Asyilla, siswi SMA tingkat akhir yang tampak rapuh di luar, justru menyimpan ketakutan yang berlawanan. Ia tahu bahwa Alden selalu ada di sekitarnya, selalu memperhatikannya dari bayang-bayang. Dan alih-alih menjauh, ia justru merasa tak bisa hidup tanpanya. Hubungan mereka bagaikan tarian yang penuh gairah sekaligus berbahaya-terlalu dekat bisa menghancurkan, tetapi menjauh hanya akan membuat mereka semakin haus satu sama lain.
Alden tak bisa menerima dunia di mana Asyilla bukan miliknya, sementara Asyilla tak bisa membayangkan hidup tanpa Alden yang terus memburu dan memilikinya. Mereka saling melahap, saling mencabik, saling menghancurkan, tetapi tak satu pun yang mau melepaskan.
Ketika batas antara cinta dan obsesi semakin kabur, mereka harus menghadapi kenyataan: Apakah ini cinta, atau hanya permainan bertahan hidup yang brutal?
-
"Cila... There's no way out for us. Even if you want to run, you can't."
- Raja Alden Rylan
"My eyes are all around you, Alden. Jangan coba macem-macem. You're mine forever."
- Asyilla Qeenar
Aqeela selalu percaya bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi, bagaimana jika waktu justru membawanya kembali ke titik awal?
Satu momen di hari itu membuat hidupnya berantakan. Ia merasakan penghianatan, kehilangan, dan luka. Namun, takdir berkata lain. Sebuah kecelakaan merenggut ingatannya, menghapus jejak masa lalu yang menyakitkan. Kini, ia hidup dalam dunia yang baru. Tenang, tanpa beban, tanpa kenangan yang menghantui.
Tapi mengapa, ketika sosok itu muncul kembali dalam hidupnya, ada perasaan asing yang mengusik? Seolah ada sesuatu yang seharusnya ia ingat, tetapi tetap berada di luar jangkauannya.
Mohan tidak pernah berpikir akan bertemu Aqeela lagi. Apalagi dalam keadaan seperti ini, saat gadis itu bahkan tak mengingat siapa dirinya. Haruskah ia bersyukur, atau justru merasa terhukum?
Saat masa lalu dan masa kini mulai bertabrakan, Aqeela dihadapkan pada dua pilihan: tetap dalam ketidaktahuan atau mencari kebenaran yang mungkin akan kembali menyakitinya. Sementara Mohan... hanya bisa berharap bahwa kali ini, takdir berpihak pada mereka.
Karena cinta yang pernah tersesat di masa lalu, mungkin masih mencari jalan untuk kembali.